Proses Pembuatan Keris Pusaka
Proses Pembuatan Keris Pusaka.
Abstrak
Budaya keris tak lepas dari dua aspek pemahaman yaitu bendawi dan non-bendawi; Eksoteri dan esoteri.
Awalnya, fungsi keris adalah sebagai senjata tikam, dalam perjalanannya bergeser sebagai status sosial bermuatan spiritual, sebagai ”ageman” atau pusaka turun-temurun. Prosesi pembuatan keris, merupakan narasi ritual yang dilatari perlakuan esoteristik Kejawen. Karena itu keris adalah ekspresi kultural sang empu dalam ibadahnya.
Gerbang
Kejawen dari kata Jawa (Java): Javanism, adalah kegiatan orang Jawa dalam pencarian pengetahuan tentang hidup yang benar, menjadi ketauladanan kerohanian masyarakatnya turun-temurun, serta dipraktekkan dalam tatacara kehidupan lahiriahnya. Salah satu prinsipnya adalah mencari urip sejati (urip = hidup; sejati = true) mencapai hubungan yang harmonis antara hamba dan Tuhan, Jumbuhing Kawulo Gusti (jumbuh = a good relation, menyatunya, kawulo = hamba, gusti = Tuhan, Allah).
Kejawen merupakan ajaran spiritual asli leluhur tanah Jawa, yang dahulunya belum terkena pengaruh budaya luar. Artinya sebelum budaya Hindu dan Budha masuk ke tanah Jawa, para leluhur tanah Jawa sudah mempunyai budaya spiritual sendiri. Seperti terbukti adanya beberapa cara pandang spiritual Kejawen yang tidak ada pada budaya Hindu maupun Budha. Namun demikian, sekarang kita mewarisi Kejawen yang telah melalui proses sinkretisme budaya lain bahkan sinkretik dengan agama-agama.2)
Kejawen memiliki arti yang luas meliputi sopan santun, keyakinan, filosofi, kesenian, tradisi, kekaryaan, kesatryaan, kepemimpinan, dlsb. Dalam catatan kuno dikenal adanya istilah Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (Sastra = tulisan; Jendra = Harjendra, Dewa Indra, Tuhan sebagai manifestasi alam semesta dan kehidupan; Hayu = tenteram dan baik; Ing Rat = di dunia dan di dalam diri pribadi; Pangruwat = merubah; Diyu = Raksasa, angkara, watak buruk, kebiadaban). Tulisan atau buku Ketuhanan untuk menuju ketentraman dengan merubah watak biadab menuju peradaban (to civiliziation).
Sastra Jendra dalam sisi pandang universal bisa dipahami sebagai ”Sastra Ketuhanan”3) yang tumbuh dari keimanan manusia melalui penghayatan maguru alam dan kehidupan (jagad gede), merupakan software yang terprogram dalam diri manusia (jagad cilik) serta menyelia di segala aspek kehidupan manusia.
Sastra Jendra dalam buku Betaljemur Adam Makna disebut : Mustikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, karaharjan, katentreman lan sak panunggilipun, memayu hayuning bawana. Artinya “mustikanya ilmu Ketuhanan sebagai pedoman hidup menuju keselamatan, kesejahteraan dan ketenteraman dalam kehidupan diri sendiri maupun untuk kebaikan dunia”.
Pemahaman Sastra Jendra Hayuningrat melahirkan konsepsi Memayu Hayuning Bawono – menjaga keseimbangan dunia dalam arti yang luas; melestarikan alam semesta untuk kesejahteraan kehidupannya; dimulai dari antara manusia dengan manusia; dan antara manusia dengan alam semesta didasari oleh hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan.
Kemudian dari kepercayaan Kejawen itu, muncul suatu perenungan tentang hal keutamaan manusia yang dimaknai oleh ”budi-pekerti”.
Prosesi Pembuatan Keris Pusaka
Pada catatan anonim yang didapat dari salah satu buku tanpa judul di perpustakaan Radhya Pustaka – Surakarta yang bertulis Jawa carik (huruf Jawa), disulih secara bebas dalam bahasa latin4), antara lain disebutkan secara runtut :
1. Kyahi empu nyamektakaken ubarampening wilah tuwin tosan waja, sinambi nindakaken samadi supados pikantuk wisik ngingingi wujud punapa ingkang gegayutan kaliyan dhuwung ingkang badhe kadamel, kalarasaken kaliyan pakaryaning tiyang ingkang nyuwun kadamelaken dhuwung punika, kadosta: supados kathah rejekinipun utawi kangge kapangkatan. Inggih ing wekdal punika mujudaken wekdal panyrantos ingkang panjang, amargi kyahi empu boten miwiti pakaryanipun saderengipun angsal tumuruning pitedah.
(1. Kyahi empu menyiapkan dan memantrai bahan besi-besi baja, sambil melakukan samadi untuk mendapatkan inspirasi tentang hal bentuk keris yang akan dibuat, selaras dengan profesi pemesannya; seperti agar banyak rejekinya atau berfaedah untuk suatu kepangkatan. Pada tahap inilah merupakan penantian panjang karena kyahi empu tidak akan memulai sebelum mendapatkan petunjuk Tuhan YME).
Pembahasan ad. 1 : Kalimat agar banyak rejeki atau berfaedah untuk suatu kepangkatan; memberi pengertian bahwa keris memang diciptakan agar mempunyai daya (tuah) untuk sesuatu tujuan dan kemanfaatan bagi seseorang melalui petunjuk Tuhan YME.
2. Manawi tataran ngajeng kala wau sampun dipun lampahi, mila kyahi empu miwiti benjing punapa anggenipun badhe miwiti pandameling dhuwung punika, kyahi empu ugi ngetang dhawahing dinten ingkang anggenipun kedah kendel nyambut damel, amargi mujudaken dinten awon. Kyahi empu kedah lebda dhateng ngelmi Candrasengkala saha ngelmi petangan dinten.
(2. Setelah tahap pertama selesai, kemudian kyahi empu memulai dengan perhitungan kapan hari baik dimulainya pembuatan keris itu, dan kapan harus berhenti istirahat dahulu untuk melewati hari jelek. Kyahi empu dalam hal ini memang menguasai ilmu Candrasengkala dan perhitungan hari).
Pembahasan ad. 2 : Dalam perilaku sehari-hari, bangsa kita (Nusantara) memiliki kepercayaan untuk terhindar dari malapetaka, yaitu kepercayaan pada hitungan hari baik.
3. Sasampunipun katamtokaken dinten wiwitanipun, mila kyahi empu nyamektakaken sajen kangge nindakaken tatacara ingkang ancasipun nyuwun idin tuwin berkah miwah nyenyapa dhateng kekiyatan-kekiyatan ngalam ingkang mujudaken titahing Hyang Tunggal. Sajen punika wonten kalih warni: Sajen baku inggih punika sajen ingkang dipun tindakaken turun-tumurun antawisipun: tumpeng, sekar setaman, sekar telon, pisang raja, jenang abrit, jenang baro-baro, jenang rajah, jenang bolong, bekaka ayam, sambel goreng ati, kinangan sata, sedhah, apu, teh pait saha kopi pait, sentir, wewangen mliginipun kutukan menyan saha dupa. Wonten sajen wewahan sinebat sajen barikan inggih punika manawi kyahi empu angsal wisik mligi kadosta mewahi tigan ceplok, sok ugi kawewahan rah ayam pethak mulus lan sapanunggilanipun. Kyahi empu pancen lebda dhateng ngelmi sarana, utawi ngelmi sajen. Amargi sajen ingkang kagelar punika anggadhahi pralambang ingkang boten sok tiyanga mangretos.
(3. Sesudah menentukan hari baik untuk memulai, maka kyahi empu melengkapi sesaji untuk upacara memohon ijin kepada kekuatan-kekuatan alam yang juga merupakan ciptaan sang Hyang Tunggal. Sesajinya ada 2 (dua) macam yaitu sesaji baku yang dilakukan turun temurun sesuai pakem, seperti tumpeng, bunga setaman, bunga tiga rupa, pisang raja, jenang merah, jenang baro-baro, jenang rajah, jenang bolong, bekakak ayam, sambel goreng ati, kinangan tembakau, daun sirih, kapur sirih, teh pahit, kopi pahit dan lampu minyak, diseling dengan membakar kemenyan. Sesaji yang kedua disebut sesaji barikan, merupakan sesaji tambahan karena kyahi empu mendapat petunjuk atau inspirasi misalnya harus menambahkan telur mata sapi, ayam putih mulus atau yang lainnya, kemudian disantap bersama-sama. Kyahi empu memang menguasai ilmu Sarono atau ilmu sesaji, satu persatu dari sesaji itu memiliki perlambangan yang tidak semua orang tahu artinya.
Pembahasan ad. 3 : Sesuai kepercayaan maguru alam sebagai interaksi manusia dengan alam, muncul kesadaran keikhlasan untuk melakukan ‘persembahan’ kepada Tuhan perwujudan alam yang menghidupinya (alam semestawi). ‘Persembahan’ manusia kepada alam dengan perlambangannya menjadi pengharapan dan atau kebalikannya seolah alam ‘meminta’ untuk dilakukannya. Kata ‘meminta’ dalam konteks sebagai inspirasi manusia mendapat gambaran mengetahui situasi ketimpangan alam yang membutuhkan keharmonisannya. ‘Persembahan’ itu disebut sesaji (menyajikan .….), maka dalam prosesi penciptaan keris dilakukan sesaji pokok (sesuai aturan turun-temurun) serta ada sesaji barikan.
Sesaji Barikan adalah sebagai pelengkap tambahan yang dapat mengharmoniskan tujuan penciptaan keris tersebut. Merupakan inspirasi yang terbersit oleh sang empu, dimana tidaklah setiap keris harus memakai sesaji barikan. Sebagai contoh : karena situasi wabah penyakit pada masa itu, sang Raja menitahkan membuat keris penangkal, maka dalam hal ini dipastikan ada sesaji barikannya. Pada waktu Suran (1 Suro tahun 1997?) di Kraton Surakarta Hadiningrat pernah mengumumkan sajen barikan “madu mongso” (ketan hitam yang diberi gula), agar setiap keluarga-keluarga juga mengadakan sesaji tersebut atau dimakan bersama-sama. Sebagai upaya untuk menolak suatu bencana yang diperkirakan (diramalkan) terjadi, sesaji barikan diharapkan agar alam dapat harmonis kembali.
4. Pangucaping japamantra, nalika jaman rumiyin padatanipun taksih angginakaken basa Jawi Kina, nanging ing pungkasaning jaman Majapait ewah sacara Islam. Tuladhanipun: jaman rumiyin kawiwitan kanthi ngucap Hong wilaheng, utawi niyat ingsun, nalika jaman para wali kawiwitan kanthi ngucap Bismillaah hirrahma nirrahiim…. lan salajengipun.
(4. Pengucapan mantra, pada jaman dahulunya mantra masih berbahasa Jawa kuno atau bahasa Kawi, tetapi setelah Majapahit runtuh mulai berubah secara do’a Islam. Antara lain jaman dahulu dimulai dengan mengucap Hong Wilaheng, atau niat ingsun, maka jaman para wali dimulai dengan Bismillah hirrahmanirahim …. dan seterusnya).
Pembahasan ad. 4 : Mantra dapat didefinisikan sebagai suara, bunyi, kata, atau kelompok kata yang dianggap mampu menciptakan transformasi. Mantra bervariasi sesuai dengan filosofi yang berhubungan dengan tujuan mantra. Dilakukan antara lain, termasuk dalam upacara-upacara permohonan hujan, keberkahan, menghindari bahaya, atau menghapuskan musuh. Setiap kelompok manusia atau suku bangsa memiliki mantra tersendiri, termasuk orang Jawa sejak jaman dahulu kala. Istilah ’mantra’ pertama ditulis tercatat pada adanya tradisi berasal dari Vedic (tradisi India, di masyarakat Jawa kuno sudah ada tetapi tidak ditemukan catatannya), kemudian menjadi bagian penting dalam tradisi dan praktek masyarakatnya. Begitu pula, akhirnya menjadi dasar spiritual pada Hinduisme, Buddhisme, Sikhisme dan Jainisme. Penggunaan mantra kini meluas diberbagai gerakan spiritual yang sebelumnya ada pada tradisi-tradisi di Timur. Suatu “mantra” diucapkan dan digetarkan melalui sanubari manusia secara berulang-ulang, bahkan dari abad ke abad telah dilakukan, sehingga seolah terjadi sebuah konvensi (perjanjian) dengan alam semesta sehingga mantra itu memiliki kekuatannya. Mantra lahir dari olah “rasa” yang tinggi dalam proses spiritualisasi manusia dengan menyembah kepada Tuhan sebagai manifestasi alam dan kehidupan. Sehingga “mantra” menjadi wujud kekuatan itu sendiri, siapapun mengucapkan mantra akan merasakan hasilnya.
5. Sasampunipun bakalan saton dados dipun tindakaken tuguran kaliyan bakalanipun dipun selehaken wonten ing pelataran supados manunggal kaliyan rembulan tuwin lintang ingkang wonten ing akasa. Ndungkap enjing asring wonten kadadosan gaib ingkang salajengipun dening kyahi empu dipun dadosaken gelaripun utawi namanipun sasampunipun kaaturaken dhumateng raja utawi ingkang andhawuhi damel. Tatacara punika kanamakaken ‘sirepan’, kyahi empu sareng kaliyan panjak utawi tangga-tepalih malah sok ugi kanca sesamining empu nindakaken tuguran ngantos subuh, sinambi linadosan nyamikan miwah unjukan. Nyamikan ingkang mligi padatanipun wajik.
(5. Setelah kodokan jadi, lalu dilakukan tuguran/begadang, sambil kodokan itu diletakkan di alam terbuka agar ada penyatuan kekuatan dengan rembulan atau bintang di angkasa. Menjelang pagi sering terjadi peristiwa gaib yang nantinya disimpulkan oleh kyahi empu, untuk nama gelar keris yang dihaturkan kepada Raja atau pemesannya. Tata cara tahap ini disebut ‘sirepan’, kyahi empu bersama panjak dan tetangga bahkan teman sesama empu ikut begadang hingga subuh, sambil ditemani makanan kecil dan minuman. Makanan khas yang disajikan adalah wajik atau ketan yang dimasak dengan santan).
Pembahasan ad. 5 : Perilaku prihatin atau ”nglakoni” merupakan tradisi dalam Kejawen. Maka dalam proses penciptaan keris juga ada tahap-tahap dimana dilakukan ritual yang sederhana tetapi bermakna dalam. Bakalan keris (kodokan) dipersembahkan dan dipersatukan kembali dengan alam, agar saling doyo-dinoyo (saling mendayai), didasari sebuah pemaknaan bahwa ”aku bukanlah siapa-siapa”; artinya sang empu melakukan observasi diluar obyeknya, seolah dia hanya tangan-tangan yang ’dipakai’ untuk menciptakannya. Tahap ’sirepan’ merupakan ekspresi kultural memaknai kerukunan, kegotong-royongan, toleransi, kerjasama, saling mengapresiasi, kumpul-kumpul tetangga…… dan hal ini adalah bagian kecil dari peradaban bangsa Nusantara yang masih tetap dipelihara.
6. Sasampunipun punika keris ingkang sampun dipun garap mawujud, lajeng ngancik tataran nyepuh, kyahi empu nyamektakaken bumbung ingkang dipun isi lisah klapa dipun jangkepi mawi lampah srengat tuwin sajen, padatanipun namung sekar telon, tumpeng alit, recehan kangge lelembut tumbas jajan peken saha wangen-wangen kukusing menyan. Dhuwung dipun mantrani kanthi kalarasaken kaliyan ingkang andhawuhing damel. Dhuwung dipun besmi ngantos marong lajeng dipun celupaken wonten ing salebeting bumbung ingkang dipun iseni lisah klapa. Wonten ingkang pucukipun dipun obong malih lajeng katindakaken sepuh dilat punika latu ingkang marong mawi dipun dilat dening kyahi empu ingkang sekti, padatanipun wewahan donganipun inggih punika waosan sastro pinodati, sastro gigir lan rajah kalacakra.
(6. Setelah keris yang digarap sudah berwujud/selesai, masuklah tahap nyepuh/mengeraskan besi. Kyahi empu menyiapkan tabung dari bambu yang diisi minyak kelapa, dengan dilakukan ritual dan sesaji, biasanya hanya tumpeng kecil, bunga tiga rupa dan uang recehan untuk jajan pasar para lelembut, sambil dibakari kemenyan. Keris dimantrai berulang-ulang sesuai dengan tuah yang diinginkan. Keris kemudian dibakar membara dicelupkan ke dalam bumbung yang berisi minyak itu. Ada diantaranya yang pucuknya dibakar ulang kemudian dilakukan sepuh dilat5) yaitu ujung keris yang membara dijilat oleh kyahi empu sakti, sebelumnya dibacakan mantra sastra pinodati, sastra gigir dan rajah kalacakra).
Pembahasan ad. 6 : Secara umum keris diagungkan oleh kawula perkerisan; antara lain pada keunikan teknologinya. Namun kurangnya informasi dalam hal pengerasan baja atau ‘proses sepuh’ keris pada waktu itu tidak diketahui tujuan yang sebenar-benarnya. Dalam tinjauan spiritual, prosesi penciptaan keris pada tahap sepuh ternyata aksentuasinya justru pada diadakannya ritual dan sesaji sebagai penyembahan kepada Hyang Gusti serta untuk ‘kulo nuwun’ kepada baureksa disekitarnya. Bahkan ‘Uang receh’ yang disebutkan adalah untuk jajan pasar para lelembut (makhluk halus); merupakan suatu kompensasi jika ada kelalaian atau kekurangan dalam sesajinya. Uang recehan itu bisa dibelanjakannya sendiri (makhluk halus) ke pasar. Kemudian pada kalimat : “Ada diantaranya yang pucuknya dibakar ulang kemudian dilakukan sepuh dilat yaitu ujung yang dibakar membara dijilat oleh kyahi empu sakti ……..dibacakan sastra pinodati, sastra gigir dan rajah kalacakra”.
Sepuh dilat adalah ritual berupa prosesi dengan menjilat sebilah besi membara biasanya pisau membara yang kemudian pisau itu dihentakkan (dicelup) pada air bunga, sebagai perlambangan bersatunya dua kekuatan (antitesis). Ketika api dan air bersatu, disertai mantra sang empu terucap, maka tertanamlah kekuatan pada sebilah keris yang disepuh dilat. Sepuh dilat dapat diartikan sebagai “ngenjingaken doyo” (memantek Yoni). Dalam ajaran Sastro Jendro Hayuningrat (khusus pada paguyuban Sastro Jendro pimpinan KPH. Darudriyo Sumodiningrat yang pusatnya di Jakarta), sepuh dilat adalah bagian dari ritual manembah; yang dapat dijelaskan sebagai pembersihan diri. Tentunya bagi para pengikutnya yang telah melalui inisiasi (wejangan) terlebih dahulu. Pembersihan diri yang disebut ‘asesuci’ itu ada empat macam yaitu asesuci dengan media bumi, angin, tirta dan api. Asesuci bumi dan angin tidak dilakukan (secara komunal) karena ritual ini sangat pribadi dan merupakan tahapan yang tinggi. Maka asesuci biasanya dilakukan dengan media ‘air/tirta’ dan ‘api’. Dalam ritual asesuci ’api’ dilakukan 7 (tujuh) kali jilatan; sesuai diagram chandra manusia yang menyatakan bahwa manusia memiliki 7 konstruksi jasmani dimana di dalam kejawen Sastra Jendra disebut ’sapta arga’ (bulu, kulit, daging, urat, darah, tulang, sungsum). Maka 7 (tujuh) konstruksi itu dibersihkan (disucikan) satu per satu. Sedangkan ’asesuci air’ adalah mandi keramas dengan bunga-bungaan, hal ini sangat lazim dilakukan.
Sepuh dilat biasanya dilakukan pada Upacara Sinidhikara Pusaka yaitu pada ritual agar keris terpelihara kekuatannya; dan selain itu merupakan ritual manembah rutin malam Jumat Kliwon-an. Dalam komunitas penghayat Sastro Jendro Hayuningrat; ‘sepuh dilat’ disebut dengan istilah “jamasan”.
7. Dhuwung dipun kum ing salebeting toya klapa wayu supados rereged obongan gogrog, padatanipun dipun rendhem ngantos setunggil dalu supados guwayanipun saged boten burem, saengga pamor dhuwung anggadhahi prabawa ingkang endah. Sasampunipun makaten, dhuwung dipun pulihaken mawi jeram pecel ngantos resik, saha lajeng dipun kum warangan. Dhuwung ingkang sampun dipun kum warangan dipun oser-oseri lisah tumunten dipun ‘sanggaraken’ kaseleh ing papan padupan dangunipun ngantos sawatawis dalu, kedah nglangkungi malem Jumuwah Kliwon utawi Selasa Kliwon. Bab punika katindakaken supados mantra manjing sayektos saha dhuwung ampuh saestu. Sasampunipun rampung saestu, dhuwung kadamelaken warangka jumbuh kaliyan wujuding dhuwung tuwin pun saged netepaken, awit mranggi ingkang sae adamel warangka saged kinunci.
(7. Kemudian keris direndam ke dalam air kelapa yang sudah basi, agar kerak-kerak besi pembakaran terlepas, biasanya direndam semalam sehingga keris cemerlang guwayanya, serta muncul pamornya yang indah. Setelah itu keris dibersihkan dengan air jeruk nipis hingga putih, lalu diwarangi. Keris yang selesai diwarangi diolesi minyak kemudian disanggarkan dengan cara ditaruh ditempat pedupaan beberapa hari sampai melewati Jum’at Kliwon atau Selasa Kliwon. Hal ini dilakukan agar mantranya betul-betul manjing dan keris betul-betul ampuh. Setelah selesai semua, keris dibuat warangkanya yang cocok oleh mranggi/tukang warangka yang mahir dan biasanya warangka bisa terkunci).
Pembahasan ad. 7 : Kalimat yang menarik pada point 7 ini adalah dalam ada kata disanggarkan. Kata ”sanggar” artinya ruang atau rumah pemujaan. Disanggarkan artinya keris diletakkan dalam ruang pemujaan itu. Maksudnya adalah agar semua yang telah dilakukan secara bendawi dan non-bendawi dapat mengendap. Sesuai kepercayaan Kejawen ditentukan meliwati hari tertentu, seperti Jumat Kliwon yang dianggap sebagai hari besar yang membawa berkah atau Selasa Kliwon yang dipercaya sebagai penyatuan kasih Angkasa dan Bumi yang juga disebut Anggoro Kasih (Anggoro = Selasa; Kasih = Kliwon).
Pemahaman Esoterik
Esoteris keris adalah hal-hal non-bendawi pada keris meliputi segala aspeknya; seperti telah diuraikan prosesi pembuatan keris dengan ritual yang menyimpulkan adanya perlakuan esoteristik spiritual dari awal penciptaannya. Keris, secara wujud fisik atau disebut eksoteris memuat pula ’senirupa simbolik’, sesuai karakter dan tuah yang diinginkan, tertuang dalam bentuk keris (disebut dhapur) dan motif pamornya.
Dhapur atau bentuk keris secara senirupa merupakan simbolisasi dari tujuan diciptakannya. Antara lain adanya bentuk keris lurus (dhapur bener) menyimpulkan ke’takwa’an kepada Hyang Maha Kuasa. Dhapur Jangkung (luk 3) melambangkan terjangkaunya cita-cita. Dhapur Pandawa (luk 5) agar pemiliknya dapat berdiplomasi dan memiliki watak agung seperti Pandawa lima. Begitu seterusnya hingga dapur yang lekuknya banyak seperti dhapur Ngamper Bantolo (luk 15) yang melambangkan si pemilik bisa menguasai tanah dan wilayah yang luas.
Selain dhapur, ternyata ’keris’ juga diciptakan dengan grand design yang sempurna dan agung; divisualkan pada motif pamor berkaitan dengan tujuan esoteriknya (tuah). Simbol-simbol senirupa ”pamor” itu digolongkan dalam 5 kelompok; yang diekspresikan dalam media sebidang bilah keris, sesuai ’chandra manusia’ dengan pemahaman unsur (anasir) tubuh manusia dan semesta (pandangan Kejawen); antara lain:
1. Jika pemantraan keris ditujukan untuk kerejekian, pergaulan, dikasihi, kejayaan, kemakmuran, keduniawian atau kehidupan lahiriah lainnya maka motif pamornya ditata berbentuk meliuk-liuk dan berpusar-pusar dilambangkan sesuai karakter ”tirta” (unsur air). Contohnya : wos wutah, udanmas, segoro muncar dlsb.
2. Konfigurasi pamor bergaris-garis seperti lidi berjajar dianggap sebagai simbolisasi penyapu bencana, penolak bala, penolak segala kelicikan, santet dan perlakuan jahat baik secara fisik maupun maya. Serta merupakan simbol kebijaksanaan. Konfigurasi garis-garis tergolong dalam sebutan pamor singkir dan pamor hadeg. Karakter yang tegar ini dilambangkan kekuatan ‘bayu’ (unsur angin) yang sanggup menyapu segalanya, menerbangkan debu, dedaunan, bahkan atap dengan tidak tampak namun tetap dapat dirasakan keberadaannya.
3. Pamor rekayasa (dirancang atau pamor rekan) berbentuk motif daun palem, daun genduru, sekar-sekaran, lebih spesifik untuk tuah kejayaan, martabat, kekuasaan, kederajatan pemiliknya. Konfigurasi ini coraknya berjuntai keatas seperti karakter dari kobaran ‘agni’ (unsur api). Tetap dalam lingkup sebagai representasi alam, contohnya pamor Ron Genduru, Blarak Sinéréd, Sekar Lampés, Sekar Pålå, Sekar Kopi, Mayang Mekar, Pari Sa’uli, dlsb.
4. Kesentosaan juga disimbolkan dengan adanya keris polos tanpa pamor (disebut: keleng) mengibaratkan dalam diri manusia memiliki jiwa pengabdian yang tulus. Keris keleng biasanya dibuat oleh sang empu untuk kebutuhan ketentraman, orang-orang spiritual, pembela kejujuran dan sifat-sifat kesentosaan lainnya. Karakter unsur ‘bantolo’ atau ‘bumi’ disimbolisasikan dengan keris keleng tanpa pamor itu.
5. Bahwa kemanunggalan ’aku’ atau pancer-nya ditengah saudara empat atau sedulur papat yang dalam proses spiritual adalah tahap transcendental, tercapainya kemanunggalan dalam ruang bapa angkasa dan ibu bumi ditengah kiblat timur-selatan-barat-utara dalam ’aku jagad’6), sanggup melahirkan kekuatan dahsyat dalam perwujudan goresan ’rajah’. Pamor rajah diciptakan oleh empu yang sakti dengan tujuan tertentu. Hingga saat ini, hanya beberapa bentuk pamor rajah pada keris yang bisa dimengerti seperti rajah ‘batu lapak’ memiliki tuah si pemilik dapat menghilang, lolos dari tembakan, kebal peluru, tidak tampak walaupun di depan mata musuh, dlsb; serta rajah ‘pilulut’ untuk kasengseman, pèlèt, kebahagiaan seksual, dlsb, ada pula rajah Alif, kalacakra dlsb, masih banyak bentuk rajah yang lain seperti ekspresi abstrak dari sang empu yang sulit diselami maknanya.
Cakrawala
Melalui kajian tentang ’keberadaan’ keris pusaka dalam kaitannya dengan budaya spiritual Kejawen; pada pembahasan ’prosesi pembuatan keris’ di jaman dahulu; menyimpulkan adanya fakta bahwa keris dari awal penciptaannya dimuati kepercayaan Kejawen; kita tidak perlu tabu membahasakannya. Tidak mendalihkan pula ke hal-hal teknis (modern) dengan membuang fakta-fakta spiritual yang ada pada keris.
Pembuatan keris dimasa sekarang, mengalami kemajuan pesat seperti di Solo, Jogya, Muntilan, Malang, Gresik, Madura dan Bali. Dalam hal meningkatnya ketrampilan para seniman keris sekarang, memberikan angin segar karena ‘keris baru’ (keris Kamardikan) secara eksoteristik (fisik) semakin bagus dan menyamai kualitas keris tua, tentu sangat perlu diapresiasi sebagai sebuah kebangkitan kebudayaan di bumi Nusantara dalam rangka menebalkan ‘jati diri bangsa’ melalui budaya keris.
Catatan kaki :
(1). Penulis adalah alumni STSRI ‘ASRI’ Jogyakarta, pegiat pelestarian Keris sebagai SekJen Panji Nusantara dan Pimpinan Redaksi majalah semi jurnal tosanaji PAMOR. Mantan pengurus DPP. Paguyuban Sastro Jendro – berdomisili di Jakarta.
(2). Wikiepedia; Kejawen.
(3). Tentang ”Sastra Ketuhanan” dibaca dari tulisan Prof. Dr. Budya Pradipta – SASTRO JENDRO HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU; Jurnal Kertagama edisi I No. 1; hal 1 – Februari-April 2009; kutipan:
Adalah buku tulisan Jawa berjudul serat Arjuna-sasrabau (1870), karya pujangga Sindu Sastra, yang memuat ungkapan terkenal: Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu. Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia adalah Sastra Ketuhanan Penyelamat Dunia Pelepas Sifat Raksasa. Sastro Jendro Hayuningrat adalah ilmu (ajaran) dan lakunya bangsa Jawa yang menggayuh kesempurnaan hidup. Dengan kata lain Sastro Jendro berisi teori dan praktek hidup sempurna. Istilah Sastro Jendro atau Sastra Ketuhanan mengandung makna yang sangat luas, berisi Ilmu Ketuhanan tentang ilmu dan laku Ketuhanan yang membahas bagaimana mengolah hidup mulai dari lahir sampai tiba waktunya dipanggil Tuhan. Luas sekali. Pendek kata berisi tentang pengetahuan mikro-kosmos berikut hukum-hukumnya. Menurut penelusuran sistem nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, sebenarnya tiap-tiap bangsa di anugerahi Sastra Ketuhanan, yang nama dan strukturnya tergantung pada sistem dan konvensi budaya masing-masing yang khas. Kepada bangsa Jawa, Tuhan menganugerahkan Sastra Ketuhanan di dunia yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada jenis manusia sesuai dengan alam dan lingkungan masing-masing. Sepanjang sejarah hidup manusia, Tuhan menurunkan Sastro Jendro yang oleh manusia dipersepsikan sebagai ajaran Ketuhanan yang beraneka ragam. Kalau Adam dipercaya sebagai manusia pertama, maka seharusnya Adam pun dahulu telah menerima Sastro Jendro. Sayangnya tidak ada petunjuk tentang nama dan struktur Sastra Ketuhanan yang diterima oleh Adam itu. Mungkinkah itu berupa kitab Adam Makna? Di dunia dikenal ada dua wilayah yang melahirkan Sastra Ketuhanan, yaitu : pertama, Sastra Ketuhanan yang berasal dari India. Ini yang paling tua, seperti Kitab Wedha (diperkirakan ditulis 5100 tahun yang lalu oleh Resi Wiyasa) bagi umat Hindu dan kitab Tripitaka (diperkirakan ditulis 2600 tahun yang lalu oleh Budha) bagi umat Budha. Kedua, Sastra Ketuhanan yang dari Timur-Tengah ini lebih muda dari pada yang berasal dari India, seperti: Sastra Ketuhanan yang tertuang di dalam Kitab Zaratustra untuk umat Zind-Avesta, Kitab Taurat untuk Nabi Musa, Kitab Zabur untuk umat Nabi Daud, Kitab Injil untuk umat Nabi Isa, dan Kitab Al-Qur’an untuk umat Nabi Muhammad. Ini belum kitab-kitab suci lain yang diterima oleh bangsa-bangsa di luar bangsa-bangsa India dan Timur-Tengah.
Tanpa ‘keutamaan manusia’ itu, akan mengakibatkan perilaku manusia bergeser melenceng dari ’keharmonisan memayu hayuning bawana’. Antara lain terjadinya: kerusuhan yang disebabkan oleh konflik antar agama, penindasan hak-azasi manusia, hilangnya moral dan etika, dan terutama hilangnya esensi berketuhanan itu sendiri.
”Budi-pekerti” dalam lingkup ’keharmonisan memayu hayuning bawana’, terbaca pada realitas adanya tradisi-tradisi ritual yang alam semestawi. Berinteraksi pada kehidupan sehari-hari manusia, dan merupakan kompleksitas ‘keimanan’ yang horizontal – vertikal. Seperti ritual “bersih desa”, ruwatan, upacara selametan termasuk “prosesi pembuatan keris pusaka” dalam upacara sidikaranya (sinidhikara = pemantraan; Bhs. Kw.).
(4). Diterjemahkan bebas ke dalam bahasa Jawa oleh Adie Deswijaya, Sarjana Sastra Jawa yang bermukim di Sukohardjo-Solo.
(5). Kata ’sepuh dilat’ pernah ditulis dalam ritual yang diadakan oleh Sinuhun Paku Buwana X dihadapan tamu raja Siam yaitu Rama ke IV (Chulalonkorn) di Alon-alon Utara; artikel S. Lumintu (kliping Buana Minggu) dan buku stensil ”Sri Susuhunan Pakoe Boewono X – Kenanganku Sepanjang Masa” oleh KPH. Djojohadinegoro S.H. (Juli 1990). Dalam buku ”Keris Jawa; antar Mistik dan Nalar” ditulis oleh Haryono Guritno, empu terakhir yang tercatat mampu melakukan ’sepuh dilat’ adalah Wirasukadgo di jaman Paku Buwana X.
(6). Kondisi terjadinya ”aku jagad” harus dipahami dahulu bahwa manusia memiliki abstraksi empat saudara yang analog dengan pasaran; mata angin; unsur tubuh; aura; dan Caraka, sbb, adalah :
1. Puser : Legi – Timur – Unsur Angin – Aura Putih – HO NO CO RO KO
2. Getih/darah : Paing – Selatan – Unsur Api – Aura Merah – DO TO SO WO LO
3. Kakang Kawah/ketuban : Pon – Barat – Unsur Air – Aura Kuning – PO DHO JO YO NYO
4. Adi Ari-ari : Wage – Utara – Unsur Bumi – Hitam – MO GO BO THO NGO
Aku jagad adalah bersatunya jagad kecil dan jagad gede, dimana AKU jadi ratu ing jagad yang duduk ditengah-tengahnya kiblat dinaungi bapa angkasa dan ibu bumi. Kondisi kemanunggalan inilah melahirkan kekuatan yang dapat divisualisasikan dalam sebuah goresan rajah.
Demikian artikel mengenai Proses Pembuatan Keris Pusaka dari PusakaDunia.Com.
Kepustakaan :
1. Anonim. tahun – . Kagungan dalem Serat Saranduning Dhuwung. Koleksi Radhya Pustaka.
2. Haryono Haryoguritno. 2005. Keris Jawa, Antara Mistik dan Nalar. Jakarta. Indonesia Kebanggaanku.
3. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta. Balai Pustaka.
4. KPH. Djojohadinegoro S.H. Juli 1990.”Sri Susuhunan Pakoe Boewono X – Kenanganku Sepanjang Masa”. Stensil.
5. Mulder, Niels. 1984. Kebatinan dan Hidup Sehari-hari orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kulturil. Jakarta. Gramedia.
6. Situs Wikiepedia. Kejawen.
7. S. Prawiro Atmojo. 1980. Bausastra Jawa-Indonesia. Jakarta. Gunung Agung.
8. S. Harjanto. 1978. Sastra Jendra. Jakarta. Jambatan.
9. T. Sianipar, Alwisol, Munawir Yusuf. 1989. Dukun, mantra, dan kepercayaan masyarakat. Pustakakarya Grafistama.
10. Tan Khoen Swie. 1929. Serat Sastrahardjendra – Anjarijosaken pupuntoning kawruh kasampurnan, sarta tjunduk kalijan pikajenganipun ngelmi ma’rifat. Kediri. Penerbit Tan Khoen Swie.
11. Tan Moh Goan. 1912. Riwajat Modjopahit. Petak Baroe – Batavia Stad. Penerbit Eng Hoat.
Tags: Ilmu Pusaka Dunia
Proses Pembuatan Keris Pusaka
Gelang Kayu Kelor Penangkal Ilmu Hitam Gelang Kayu Kelor Penangkal Ilmu Hitam merupakan gelang pusaka yang terbuat dari kayu kelor yang langka dan memiliki serat yang indah sekali. Gelang pusaka ini sangat banyak diburu para pecinta gelang pusaka bertuah. Gelang Kayu Kelor Penangkal Ilmu Hitam mempunyai Khasiat Insya Allah untuk proteksi diri dan bangunan dari… selengkapnya
Rp 375.000Mustika Pusaka Bethara Singkir adalah nama Produk ini. Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Pusaka Bethara Singkir Insya Allah untuk Pengusir Jin jahat dan terhindar dari gangguan ilmu sihir, ilmu hitam seperti santet, teluh, tenung, guna guna dan sebagainya, Dan masih banyak lagi khasiat positif lainnya. Produk Jenis ini bernama Batu Akik Pamor Guratan. Produk jenis ini… selengkapnya
Rp 250.000Batu Mustika Waja Hitam Tolak Bala Batu Mustika Waja Hitam Tolak Bala adalah mustika bertuah yang didapat dari proses penarikan alam oleh tim pusaka dunia. Mustika ini memiliki corak dan warna yang sangat menawan. Corak dan warna mustika kami murni terbentuk dari alam begitu pula dengan tuah dan khasiatnya yang alami dari alam. Dengan Memiliki… selengkapnya
Rp 385.000Batu Mustika Khodam Pantai Selatan Asli Batu Mustika Khodam Pantai Selatan Asli merupakan mustika bertuah dengan bentuk pamor guratan hijau unik dan elegan. Energi mustika tersebut cocok sekali dengan semua aura dan tidak pemilih, jadi sangat aman untuk dimiliki siapapun. Pamor mustika ini juga terbentuk melalui proses alam secara alami dan bukan hasil isian maupun… selengkapnya
Rp 265.000Batu Mustika Lawe Saukel Laut Kidul Batu Mustika Lawe Saukel Laut Kidul adalah salah satu mustika keberuntungan yang kuat yang memberi Anda kesehatan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Merupakan lambang kewibawaan, kedudukan, pelindung, menjadi panutan, panutan, disegani banyak kalangan, kepemimpinan dan disegani banyak orang. Khasiat Batu Mustika Insya Allah itu akan membuat Anda merasa lebih percaya diri… selengkapnya
Rp 675.000Poster 3D Aneka Buah Segar Poster 3D Aneka Buah Segar adalah poster yang memiliki gambar dengan aneka buah segar efek 3 dimensi. Kita semua sudah mengetahui manfaat buah untuk kesehatan. Selain serat buah juga memiliki berbagai vitamin dan mineral yang sangat berguna untuk tubuh kita. Kandungan yang terdapat didalam buah dapat memperbaiki atau meningkatkan fungsi… selengkapnya
Rp 15.000Mustika Bertuah Ijo Lumut adalah nama Produk ini. Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Bertuah Ijo Lumut Insya Allah untuk membuka keberuntungan sehingga hidup dijauhkan dari kesialan, memudahkan segala keinginan sesuai hajat pemilik, membuang energi dan kekuatan negatif sehingga semua energi menjadi positif dan bermanfaat untuk kesuksesan segala urusan, proteksi gaib sehingga menjadi manusia yang tahan dan… selengkapnya
Rp 225.000Liontin Mustika Giok Ukir Naga Liontin Mustika Giok Ukir Naga merupakan liontin giok putih yang berukirkan seekor naga yang memiliki energi pengasihan. Liontin ini sangat cocok di pakai oleh kaum pria maupun wanita. Khasiat dan Manfaat Bertuah Liontin Mustika Giok Ukir NagaInsya Allah sangat bemanfaat untuk : Membuang kesialan jodoh agar tidak sering putus cinta… selengkapnya
Rp 350.000Mustika Lipan Tembus Pandang Ampuh Mustika Lipan Tembus Pandang Ampuh merupakan mustika bertuah yang sudah terkenal dengan keampuhan manfaatnya untuk tembus pandang, mustika ini banyak di gemari oleh para pecinta batu mustika untuk di jadikan koleksi maupun untuk dijadikan sarana spiritual atau pegangan. Keterangan Mustika. Produk Jenis ini bernama Batu Lipan. Produk jenis ini ditemukan… selengkapnya
Rp 350.000Mustika Bertuah Titisan Majapahit merupakan batu mustika yang memiliki corak pamor guratan-guratan yang sangat unik dan langka sekali, mustika ini sungguh sangat indah karena pamor dari mustika ini walaupun tak beraturan bagaikan lukisan abstrak namun malah menjadikan mustika ini terlihat lebih indah serta mengesankan. Perhatikan dengan seksama pamor dari batu mustika ini sebelum memaharinya, Pamor… selengkapnya
Rp 325.000Info Asma Pukulan Gelap Ngampar. Asma Pukulan Gelap Ngampar ini mengandung arti asma pukulan petir menyambar. Sesuai dengan namanya, asma ini memiliki kegunaan untuk kekuatan pukulan tangan agar berbobot. Sehingga lawan yang terkena pukulan tangan pemilik asma ini bisa jatuh tersungkur, gosong tubuhnya ataupun mati. Maka hati-hati dalam menggunakannya. Agar pembaca tidak penasaran, berikut ini… selengkapnya
Tentang Telaga NABI SAW. Dari Abdullah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Aku adalah orang yang mendahului kamu atas telaga, maka sungguh orang-orang laki-laki diantaramu dinaikkan bersamaku, kemudian sungguh mereka dipisahkan dari aku, lalu aku berkata : “Wahai Tuhan, shahabat-shahabatku, maka dikatakan : “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sesudahmu”. (Hadits ditakhrij… selengkapnya
Warangka Sunggingan Tombak Pusaka Trisula Warangka Sunggingan Tombak Pusaka Trisula adalah warangka tombak yang setelah selesai dibentuk dihias dengan lukisan tangan dengan pola lukis tertentu, biasanya menganut cara melukis wayang kulit kulit ( sunggingan ), untuk warangka sunggingan ini tergolong mewah dan mahal harganya, tetapi untuk warangka ini tidak diperlukan kayu dari kwalitas terbaik. Tombak… selengkapnya
Tentang Tamara Bleszynski : Bulan Sabit dan Bintang Mengantarkan Saya kepada Islam. Suatu senja di Australia, saat saya sedang berkumpul bersama teman-teman di halaman sekolah, saya melihat bulan sabit dan bintang berdekatan. Tak lama kemudian, setelah saya renungkan, saya baru sadar bahwa pemandangan yang amat menakjubkan itu seringkali saya saksikan di Tanah Air. Tapi, dimana… selengkapnya
Seri Keris Udan Mas. Pamor ini banyak dicari orang, terutama pedagang dan pengusaha. Bentuknya merupakan pusaran atau gelang-gelang berlapis, paling sedikit ada tiga lapisan. Letaknya ada yang beraturan dan ada yang berserakan. Pamor ini sering pula berkombinasi dengan Wos Wutah atau Tunggak Semi. Manfaatnya untuk mencari rejeki dan tidak pemilih.
‘Abdullah Bin Hudzafah as-Sahmiy (Dipaksa Mencium Kepala Kaisar, Asalkan Tawanan Kaum Muslimin Bebas ) “Sudah sepatutnya setiap Muslim mencium kepala Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy dan saya adalah orang pertama yang melakukannya” (Umar bin al-Kaththab) Pemeran cerita kita kali ini adalah salah seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy. Boleh saja sejarah tidak mengangkat pembicaraan… selengkapnya
Khasiat Batu Permata Spinel Spinel Variasi Warna : Kuning, Hijau, Biru, Merah, Hitam Kadar Transparasi : Transparant, Translucent, Opaque Kilap Polis : Kilap-Intan Index Bias : 1,712 – 1,736 Kadar Keras : 8. Berat Jenis : 3,58 – 3,61 Formula Kimia : M9(Al2O), Sistem Kristal : Isometrik Wilayah Penghasil : Myanmar,Muangthai, Srilangka, Brazil dll Aura… selengkapnya
Misteri Pulau Nusa Kambangan Pulau Nusa Kambangan, terletak di lepas pantai selatan Jawa, adalah sebuah pulau yang dikenal karena reputasinya sebagai tempat penjara yang sangat terkenal di Indonesia. Namun, di balik reputasi penjara tersebut, terdapat berbagai cerita misteri dan legenda yang mengelilingi pulau ini. Salah satu cerita misteri yang terkenal adalah tentang “Hantu Belanda di… selengkapnya
Tentang Doanya Agar Dilahap Burung Dikabulkan Allah. Abu Qudamah, salah seorang komandan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang Romawi berkisah, “Ketika aku jadi Amir (komandan pasukan), aku pernah memerintahkan kaum Muslimin agar berpartisipasi dalam jihad di jalan Allah. Lalu datanglah seorang wanita membawa secarik kertas dan bungkusan (kantong), lalu aku buka kertasnya untuk membaca dan… selengkapnya
Tentang Amalan Sembuhkan Pasangan yang Suka Selingkuh. Caranya : Tulislah rajah diatas pada kain milik suami/isteri/pacar Anda yang suka selingkuh Tanam rajah di atas kuburan seseorang yang tidak diketahui identitasnya. Pada saat akan menanamnya membaca ayat di bawah ini satu kali : BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM, YA AYYUHALLADZIINA AAMANU AWFUU BIL UQUUD, UHILAT LAKUM BAHIIMATUL AN’AAMI ILLA MAA… selengkapnya
