Umair bin Saad
Umair bin Saad
“Saya membutuhkan orang seperti Umair bin Saad untuk membantu mengelola masyarakat kaum muslimin.” (Umar bin Khattab).
Umair bin Saad al-Anshary telah hidup yatim dan miskin sejak ia masih kecil. Bapaknya meninggal dunia tanpa meninggalkan harta warisan yang memadai.
Tetapi, untunglah ibunya segera menikah dengan seorang laki-laki kaya dari suku Aus, Al-Julas bin Suwaid. Maka, Umair ditanggung oleh Julas dan ikut bersama dalam keluarga. Sejak itu Umair menemukan jasa-jasa baik Julas, pemeliharaan yang bagus, keindahan belas kasih, sehingga Umair dapat melupakan bahwa ia telah yatim.
Umair menyayangi Julas sebagai layaknya seorang anak kepada bapak. Begitu pula Julas, sangat mencintai Umair sebagaimana lazimnya cinta bapak kepada anak. Semakin bertambah usia dan menjadi remaja, bertambah pula kasih sayang dan simpati Julas kepadanya, karena pembawaannya yang cerdas dan perbuatan mulia yang selalu diperlihatkannya, kehalusan budi pekerti, amanah, dan jujur yang senantiasa diperagakannya.
Umair bin Saad masuk Islam dalam usia yang sangat muda, kira-kira sepuluh tahun lebih sedikit. Ketika itu iman telah mantap dalam hatinya yang masih segar, lembut, dan polos. Karena itu, iman melekat pada dirinya dengan kokoh. Dan, Islam mendapatkan jiwanya yang bersih dan halus, bagaikan mendapat tanah subur. Dalam usianya yang masih muda, Umair tidak pernah ketinggalan salat berjamaah di belakang Rasulullah saw. Ibunya senantiasa diliputi kegembiraan setiap melihat anaknya pergi atau pulang dari masjid, kadang-kadang bersama suaminya dan kadang-kadang seorang diri.
Kehidupan Umair bin Saad pada waktu kecil berjalan lancar, senang, dan tenang, tidak ada yang mengeruhkan dan mengotori. Sehingga, tiba masanya Allah menghendaki untuk mengembangkan jiwa anak kecil yang akan meningkat remaja ini dengan suatu latihan berat, dan mengujinya dengan ujian yang jarang dilalui anak-anak sebaya dia.
Tahun ke-9 H Rasulullah saw. mengumumkan hendak memerangai tentara Rum di Tabuk. Beliau memerintahkan kaum muslimin supaya bersiap-siap menghadapi peperangan tersebut. Biasanya bila hendak pergi berperang, Rasulullah tidak pernah mengumumkan sasaran yang dituju, kecuali pada peperangan Tabuk. Rasulullah saw. menjelaskan kepada kaum muslimin sasaran yang dituju, karena akan menempuh perjalanan jauh dan sulit, serta kekuatan musuh berlipat ganda, supaya kaum muslimin mengerti dan dapat mempersiapkan diri menghadapai peperangan tersebut. Di samping itu, musim panas telah mulai dengan suhu menyengat. Buah-buahan sudah berbuah dan mulai masak. Kaum muslimin yang setia dan patuh memperhatikan seruan Nabi dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk perang dengan cermat dan cepat.
Lain lagi golongan munafik, mereka sengaja mengulur-ulur waktu. Memandang enteng setiap hal yang penting-penting, membangkitakan keragu-raguan, bahkan mencela kebijaksanaan Rasulullah saw. dan mengucapkan kata-kata beracun di majelis-majelis khusus mereka yang menimbulkan kekafiran.
Beberapa hari sebelum keberangkatan pasukan tentara muslimin ke medan perang Tabuk, Umair bin Saad yang baru meningkat remaja pulang ke rumahnya sesudah salat di masjid. Jiwanya sangat tergugah menyaksikan pengorbanan yang sangat gemilang, tulus, dan ikhlas dari golongan kaum muslimin, yang dilihat dan didengarnya dengan mata kepala dan telinganya sendiri. Dia menyaksikan para wanita Muhajirin dan Ansar, dengan spontan menyambut seruan Rasulullah saw. Mereka tinggalkan perhiasannya ketika itu juga, lalu diserahkannya kepada Rasulullah untuk biaya perang fisabilillah. Dia menyaksikan dengan mata sendiri. Utsman bin Affan datang membawa pundi-pundi berisi ribuan dinar emas, lalu diserahkannnya kepada Rasulullah. Abdurrahman bin Auf datang pula membawa dua ratus uqiyah (1 uqiyah = ? tahlil) emas dan diserahkannya kepada Nabi yang mulia. Bahkan, dia melihat seorang laki-laki menjual tempat tidur untuk membeli sebuah pedang yang akan dibawa dan dipakainya berperang fisabilillah.
Umair merasa bangga melihat kepatuhan dan pengorbanan yang amat mengesankan itu. Sebaliknya, dia sangat heran melihat orang-orang yang sangat tidak acuh melakukan persiapan untuk berangkat bersama-sama Rasulullah, dan mengundur-undur waktu menyerahkan sumbangan kepada beliau, padahal orang itu mampu dan cukup kaya untuk melakukannya sedini mungkin. Karena itu, jiwanya tergerak hendak membangkitakan semangat orang-orang yang lalai dan tidak acuh itu. Maka, diceritakannya kepada mereka segala peristiwa dan didengarnya mengenai sumbangan dan pengorbanan golongan orang-orang mukmin yang patuh dan setia kepada Rasulullah, terutama cerita mengenai orang-orang yang datang kepada Rasulullah dengan beriba-iba memohon supaya mereka diterima menjadi anggota pasukan yang akan turut berperang. Tetapi, Rasululalh menolak permohonan mereka, karena mereka tidak mempunyai kuda atau unta kendaraan sendiri. Lalu, orang-orang itu pulang dengan menangis sedih karena tidak mempunyai kendaraan untuk mencapai cita-cita mereka hendak turut berjihad dan membuktikan keinginannya memperoleh syahid.
Tetapi, tatkala kaum munafik yang sengaja berlalai-lalai dan tidak acuh ini mendengar cerita Umair yang dikiranya akan membangkitakan semangat juang dan pengorbanan mereka, malah sebaliknya Umair memperoleh jawaban berupa kata-kata yang sungguh-sungguh membingungkan pemuda cilik yang mukmin ini. Mereka berkata, “Seandainya apa yang dikatakan Muhammad tentang kenabian itu benar adanya, tentulah kami lebih buruk daripada keledai.”
Umair sungguh bingung mendengar ucapan itu. Dia tidak menyangka sedikit jua pun, kata-kata seperti itu justru keluar dari mulut orang dewasa yang cerdas, Julas bin Suwaid, bapak tiri yang mengasuh dan membesarkannya selama ini. Kata-kata yang nyata-nyata mengelurakan orang yang mengucapkannya dari iman dan Islam. Sementara kebingungan, anak itu juga memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya. Dia mengambil kesimpulan bahwa Julas diam tidak turut mengambil bagian dalam kegiatan persiapan perang adalah suatu penghianatan terhadap Allah dan rasul-Nya dan jelas membahayakan Islam serta termasuk taktik kaum munafik yang ditiup-tiupkannya sesama mereka. Jika melaporlan dan menyiarkan ucapan Julas, berarti mendurhakai orang yang selama ini telah dianggapnya sebagai bapak kandungnya sendiri. Berarti pula membalas air susu dengan air tuba. Demikian analisa Umair.
Anak kecil itu merasa harus berani mengambil keputusan segera, melaporkan dan menyiarkan ucapan ayah tirinya, atau diam seribu bahasa. Dia memilih melaporkan. Dia berkata kepda Julas, “Demi Allah, hak Bapak! Tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih saya cintai dari Bapak sendiri. Bapak memang sangat berjasa kepada saya, karena telah turun tangan membahagiakan saya. Tetapi, Bapak telah mengucapkan kata-kata yang bila saya laporkan pasti akan memalukan Bapak. Sebalikanya, bila saya diamkan berarti saya menghianati amanah yang akan mecelakakan diri saya serta agama saya. Sesungguhnya saya telah bertekad hendak melaporkan dan menyampaikan ucapan Bapak kepada Rasulullah, dan Bapak akan menjadi saksi nyata terhadap urusan Bapak sendiri.
Umair bin Saad yang masih anak-anak pergi ke masjid, lalu dilaporkannya kepada Raulullah kata-kata yang didengarnya sendiri dari bapak tirinya, Julas bin Suwaid. Rasulullah meminta supaya tinggal lebih dahulu dekat beliau. Sementara itu, beliau menyuruh seorang sahabat memanggil Julas. Tidak berapa lama kemudian Julas pun datang. Rasulullah memanggil supaya duduk di hadapan beliau.
Beliau bertanya, “Betulkah Anda mengucapkan kata-kata seperti yang saya dengar dari Umair bin Saad ?”
Jawab Julas, “Anak itu dusta ya Rasulullah, saya tidak pernah mengucapkan kata-kata demikian!”
Para sahabat memandang Julas dan Umair bergantian, seolah-olah mereka ingin memandang wajah pada keduanya apa yang sesungguhnya tersirat di hati mereka berdua. Lalu, para sahabat berbisik-bisik sesama mereka, “Anak ini sungguh durhaka. Dia jahat terhadap orang yang telah berjasa besar mengasuh dan membesarkannya.”
Kata yang lain. “Tidak! dia anak yang taat kepada Allah. Wajahnya tampan dan elok memancarkan cahaya iman menunjukkan dia benar.”
Rasulullah menoleh kepada Umair. Kelihatan oleh Beliau wajah anak itu merah padam. Air matanya jatuh berderai di pipinya. Kata Umair mendoa, “Wahai Allah turunkanlah saksi kepada Nabi-Mu, bahwa aku benar!” Julas memperkuat pengakuannya,”Ya Rasulullah, sesungguhnya apa yang saya katakana kepada Anda tadi itulah yang benar. Jika Anda menghendaki saya berani bersumpah di hadapan Anda, saya bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya saya tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti yang dilaporkan Umair kepada Anda.”
Setelah Julas selesai mengucapkan sumpah, seluruh mata yang hadir memandang kepada Umair bin Saad, sehingga Rasulullah diam sambil memicingkan mata menunjukkan wahyu sedang turun. Para sahabat memaklumi hal itu. Mereka pun diam tidak berbunyi sedikit pun jua. Tidak ada yang berkata-kata dan bergerak. Semua mata tertuju kepada Rasulullah saw.
Melihat Rasulullah kedatangan wahyu, Julas menjadi ketakutan. Dia menyesal dan menengok kepada Umair. Situasi itu berlangsung hingga wahyu selesai turun. Lalu, Rasulullah membacakan ayat yang diterima beliau, artinya “Mereka bersumpah dengan (menyebut nama Allah) bahwa mereka tidak mengatakannya. Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah memeluk Islam, dan mereka memutuskan apa yang tidak dapat mereka jalankan (untuk membunuh Nabi saw., menghancurkan Islam dan kaum muslimin). Mereka mencela Allah dan Rasul-Nya tidak lain hanyalah karena Allah telah mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Tetapi, jika mereka bertobat, itulah yang paling baik bagi mereka, dan jika mereka membelakangi, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan pembantu di muka bumi.” (At-Taubah: 74).
Julas gemetar mendengar ayat yang sangat menakutkan itu. Dia hampir tak dapat bicara karena terkejut. Kemudian, dia berpaling kepada Rasulullah saw. seraya berkata. “Saya tobat ya Rasulullah, saya tobat! Umairlah yang benar ya Rasulullah. Sayalah yang dusta, Sudilah Anda memohonkan kepada Allah, semoga Dia menerima tobat saya. Saya bersedia menebus kesalahan saya, ya Rasululallah!”
Rasulullah menghadapkan mukanya kepada Umair bin Saad yang tiba-tiba bercucuran air mata gembira membasahi mukanya yang berseri oleh cahaya iman. Lalu, Rasulullah dengan gembira mengulurkan tangannya yang mulia, menarik telinga Umair dengan lembut seraya berkata, “Telingamu cukup nyaring, nak! Allah membenarkan apa yang engkau dengar.”
Julas telah kembali kepada Islam dan menjadi muslim yang baik. Para sahabat telah mengetahui bagaimana besarnya jasa baik Julas mengasuh dan membesarkan Umair selaku anak tiri. Dia bertanggung jawab penuh sebagaimana layaknya bapak kandung Umair. Setiap kali orang menyebut nama Umair di hadapannya, dia berkata dengan tulus, “Semoga Allah membalasi Umair dengan segala kebajikan, karena dia telah membebaskan saya dari kekafiran dan dari api neraka.”
Kisah yang kita ceritakan ini belum merupakan gambaran puncak dari kehidupan Umair, melainkan baru merupakan gambaran kehidupannya waktu kecil. Marilah kita lihat gambaran kehidupannya yang lebih gemilang dan indah di waktu mudanya.
Baru saja kita melihat dengan jelas bentuk kehidupan sahabat yang mulia, Umair bin Saad, waktu dia masih kanak-kanak. Sekarang marilah kita lihat bentuk kehidupannya yang cemerlang saat dia telah dewasa. Anda akan menyaksikan kehidupan tahap kedua ini tidak kurang gemilangnya dari tahap pertama: agung dan megah.
Penduduk Hims sangat kritis terhadap para pembesar mereka sehingga sering mengadu kepada khalifah. Setiap pembesar yang baru datang memerintah, ada saja celanya bagi mereka. Dicatatnya segala kesalahan pembesar itu, lalu dilaporkannya kepada khalifah dan minta diganti dengan yang lebih baik. Karena itu, khalifah Umar mencari seorang yang tidak bercacat dan namanya belum pernah rusak untuk menjadi gubernur di sana. Lalu, beliau sebar pembantu-pembantunya untuk mencari orang yang paling tepat. Maka, tidak diperolehnya orang yang lebih baik selain Umair bin Saad. Tetapi, sayang Umair ketika itu sedang bertugas memimpin pasukan perang fi sabilillah di wilayah Syam. Dalam tugas itu dia berhasil membebaskan beberapa kota, menghancurkan beberapa benteng, menundukkan beberapa kabilah, dan membangun masjid di setiap negeri yang dilaluinya.
Saat seperti itulah Amirul Mukminin memanggilnya kembali ke Madinah untuk memangku jabatan gubernur di Hims. Khalifah Umar memerintahkan untuk segera berangkat ke Hims. Umair menerima perintah tersebut dengan hati enggan, karena baginya tidak ada yang lebih utama selain perang fi sabilillah.
Setibanya di Hims, dipanggilnya orang banyak berkumpul ke masjid untuk salat berjamaah. Selesai salat dia berpidato. Mula-mula dia memuji Allah dan mengucapkan selawat untuk Nabi, dan kemudian dia berkata, “Hai manusia, sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang kokoh dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan dan pintunya ialah kebenaran (al-haq). Apabila benteng itu ambruk dan pintunya roboh, pertahanan agama akan sirna. Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kokoh. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan yang hak.”
Selesai berpidato, dia langsung bertugas sesuai dengan khitah yang telah digariskan dalam pidatonya yang singkat itu.
Umair bin Saad bertugas sebagai gubernur di Hims hanya setahun penuh. Selama itu dia tidak menulis surat sepucuk pun kepada Amirul Mukminin. Tidak satu dinar atau satu dirham pun dia menyetorkan pajak ke Baitul Mal Muslimin (perbendaharaan negara) di Madinah. Karena itu, timbul kecurigaan di hati Khalifah Umar. Dia sangat khawatir kalaul-kalau pemerintahan yang dipimpin Umair mengalami bencana (menyelewengkan uang negara), karena tidak ada orang yang maksum (terpelihara dari dosa) selain Rasululah saw. Lalu, beliau memerintahkan sekretaris negara untuk menulis surat kepada Gubernur Umair.
Kata kalifah Umar, “Tulislah surat kepada Umair, katakanlah kepadanya, ‘Bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkanlah Hims dan segeralah menghadap Amirul Mukminin. Jangan lupa membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin’.”
Selesai surat tersebut di baca oleh Gubernur Umair, maka diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk persediaan air wudu dalam perjalanan. Lalu, dia berangkat meninggalkan Hims. Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki. Ketika hampir tiba di Madinah keadaannya pucat (karena kurang makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena perjalanan yang begitu jauh.
Umair segera masuk menghadap Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Khalifah Umar terkejut melihat keadaan Umair, lalu dia bertanya, “Bagaimana keadaan Anda wahai Umair?”
Jawab Umair, “Tidak kurang suatu apa. Saya sehat walafiat, alhamdulillah! Saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di kedua tanduknya.”
Tanya Khalifah Umar, “Dunia manakah yang Anda bawa?” (Khalifah menduga dia membawa uang setoran pajak untuk Baitul Mal).
Jawab Umair, “Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk wudu, untuk membasahi kepala, dan untuk minum. Itulah seluruh dunia yang saya bawa. Yang lain tidak saya perlukan.”
Tanya khalifah, “Apakah Anda datang berjalan kaki?”
Jawab, “Betul, ya Amirul Mukminin!”
Tanya, “Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh pemerintah?
Jawab, “Tidak, mereka tidak memberi saya dan saya tidak pula memintanya dari mereka.”
Tanya, “Mana setoran yang Anda bawa untuk Baitul Mal?”
Jawab, “Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Mal”
Tanya, “Mengapa?”
Jawab, “Setibanya di Himsh, saya kumpulkan penduduk yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus digunakan dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang berhak.”
Khalifah Umar berkata kepda juru tulis, “Perpanjang masa jatah Umair sebagai gubernur Hims.”
Kata Umair, “Maaf khalifah! saya tidak menghendaki jabatan itu lagi. Mulai saat ini saya tidak hendak bekerja lagi untuk Anda atau untuk orang lain sesudah Anda, wahai Amirul Mukminin.”
Kemudian Umair minta izin untuk pergi ke sebuah dusun di pinggiran kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Lalu, khalifah mengizinkannya.
Belum begitu lama Umair tinggal di dusun tersebut, Khalifah Umar ingin mengetahui keadaan sahabatnya itu, bagaimana kehidupannya dan apa yang diusahakannya. Lalu, diperintahkannya Al-Harits, seorang kepercayaan khalifah, “Pergilah engkau menemui Umair, tinggallah di rumahnya selama tiga hari sebagai tamu. Bila engkau lihat keadaannya bahagia penuh nikmat, kembalilah sebagaimana engkau datang. Jika engkau melihat keadaaannya melarat, berilah uang ini kepadanya.” Khalifah Umar memberikan pundi berisi seratus dinar kepada Al-Harits.
Al-Harits pergi ke dusun tempat Umair tinggal. Dia bertanya ke sana-sini di mana rumah Umair. Setelah bertemu, Al-Harits mengucapkan salam, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Jawab Umair, “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Anda datang dari mana?”
Jawab Harits, “Dari Madinah!”
Tanya Umair, “Bagaimana keadaan kaum muslimin sepeninggal Anda?”
Jawab Harits, “Baik-baik saja.”
Tanya, “Bagaimana kabar Amirul Mukminin?”
Jawab, “Alhamdulilah baik.”
Tanya, “Adakah ditegakkannya hukum?”
“Tentu, malahan baru-baru ini dia menghukum dari anaknya sendiri sampai mati karena bersalah melakukan perbuatan keji.”
Kata Umair, “Wahai Allah, tolonglah Umar! Saya tahu, sungguh dia sangat mencintai-Mu, wahai Allah!”
Al-Harits menjadi tamu Umair selama tiga malam. Tiap malam Harits hanya dijamu dengan sebuah roti terbuat dari gandum. Pada hari ketiga, seorang laki-laki kampung berkata kepada Harits, “Sesungguhnya Anda telah menyusahkan Umair dan keluarganya. Mereka tidak punya apa-apa selain roti yang disuguhkannya kepada Anda. Mereka lebih memerintahkan Anda walaupun dia sekeluarga harus menahan lapar. Jika Anda tidak keberatan, sebaiknya Anda pindah ke rumah saya menjadi tamu saya.”
Al-Harits mengeluarkan pundi-pundi uang dinar, lalu diberikannya kepada Umair. Tanya Umair, “Apa ini?”
Jawab Harits, “Amirul mukminin mengeluarkannya untuk Anda.”
Kata Umair, “Kembalikan saja uang itu kepada beliau. Sampaikan salamku dan katakan kepada beliau bahwasanya aku tidak membutuhkan uang itu.”
Istri Umair yang mendengar percakapan suaminya dengan Harits berteriak, “Terima saja wahai Umair! Jika engkau butuh sesuatu engkau dapat membelanjakannya. Jika tidak, engkau pun dapat membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.”
Mendengar Ucapan istri Umair, Harits meletakan uang itu di hadapan Umair. Kemudian, dia pergi. Umair memungut uang itu lalu dimasukkannya ke dalam beberapa pundi-pundi kecil. Dia tidak tidur samapi tengah malam sebelum uang itu habis dibagi-bagikannaya kepada orang-orang yang membutuhkan. Sangat diutamakannya memberikannya kepada anak-anak yatim, yang orang tuanya tewas seabgai syuhada di medan perang fi sabilillah.
Al-Harits kembali ke Madinah. Setibanya di Madinah Khalifah Umar bertanya, “Bagaimana keadaan Umair?”
Jawab Harits, “Sangat menyedihkan ya Amirul Mukminin.”
Tanya Khalifah, “Sudah engkau berikan uang itu kepadanya?”
Jawab.”Ya, sudah aku berikan.”
Tanya, “Apa yang dibuatnya dengan uang itu?”
Jawab, “Saya tidak tahu. Tetapi, saya kira uang itu mungkin hanya tinggal satu dirham saja untuknya.”
Khalifah Umar menulis surat kepada Umair, katanya, “Bila surat ini selesai Anda baca, janganlah Anda letakan sebelum menghadap kepada saya.” Umair bin Saad datang ke Madinah memenuhi panggilan Khalifah. Sampai di Madinah dia langsung menghadap Amirul Mukminin. Khalifah Umar mengucapkan selamat datang dan memberikan alas duduk yang dipakainya kepada Umair, sebagai pengohormatan.
Tanya Khalifah, “Apa yang Anda perbuat dengan uang itu ya Umair?”
Jawab Umair, “Apa maksud Anda menanyakan sesudah uang itu Anda berikan kepadaku?”
Jawab Khalifah, “Saya hanya ingin tahu, barangkali Anda mau menceritakannya.”
Jawab Umair, “Uang itu saya simpan untuk saya sendiri dan akan saya manfaatkan nanti pada suatu hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat lagi, yaitu hari kiamat.”
Mendengar jawaban Umair, Khalifah Umar menangis sehingga air matanya jatuh bercucuran. Katanya, “Saya menjadi saksi, sesungguhnya Anda tergolong orang yang mementingkan orang lain sekalipun Anda sendiri melarat.”
Kemudian, khalifah menyuruh seseorang mengambil satu wasak pangan dan dua helai pakaian, lalu diberikannya kepada Umair.
Kata Umair, “Kami tidak membutuhkan makanakan, ya Amirul Mukminin. Saya ada meninggalkan dua sha’ gandum untuk keluarga saya. Mudah-mudahan itu cukup untuk makan kami sampai Allah Taala memberi lagi rezeki untuk kami. Tetapi, pakaian ini saya terima untuk istri saya, karena pakaiannya sudah terlalu usang sehingga hampir telanjang.”
Tidak lama sesudah pertemuan Umair dengan khalifah, Allah mengizinkannya untuk bertemu dengan Nabi yang sangat dicintai dan dirindukannya, yaitu Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw. Umair pergi menempuh jalan akhirat, mempertaruhkan jiwa raganya dengan langkah-langkah yang senantiasa mantap. Dia tidak membawa beban berat di punggung berupa kemewahan dunia. Tetapi, dia pergi dengan cahaya Allah yang selalu membimbingnya: wara dan takwa.
Ketika Khalifah Umar mendengar kematian Umair, bukan main sedihnya. Sehingga, dia mengurut dada karena menyesal. Kata Khalifah, “Saya membutuhkan orang-orang seperti Umair bin Saad untuk membantu saya mengelola masyarakat kaum muslimin.”
Semoga Allah meridai Umair bin Saad dan semoga dia senang dalam keridaan-Nya. Dia telah menempuh cara yang diambilnya sendiri di antara sekian banyak orang. Dia adalah bekas mahasiswa yang menonjol di universitas Muhammad bin Abdullah. Wallahu a’lam.
Umair bin Saad
Mustika Judi Teratai Angka Delapan Mustika Judi Teratai Angka Delapan merupakan batu mustika bertuah yang memiliki bentuk pamor teratai angka delapan yang indah dan memang jarang sekali didapatkan. Mustika ini bentuk pamor dan perpaduan warnanya sangat serasi sekali serta terkesan indah dan elegan. Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Tersebut Insya Allah untuk Keberuntungan Hidup. Bagi yang… selengkapnya
Rp 350.000Batu Mustika Pengasihan Combong Ngadek Batu Mustika Pengasihan Combong Ngadek merupakan mustika bertuah yang memiliki lubang pada tengah mustika yang terbentuk secara alami dan bukan karena dilubangi manusia. Mustika ini sangat cocok di pakai pria maupun wanita karena energinya yang sangat bermanfaat positif bagi anda. Khasiat Manfaat Bertuah Batu Mustika Pengasihan Combong Ngadek Insya Allah… selengkapnya
Rp 300.000Mustika Pelet Putergiling Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Tersebut Insya Allah untuk memiliki ajian pelet ampuh, mengembalikan pasangan dalam pelukan, mengembalikan pelanggan, merekatkan hubungan, keharmonisan rumah tangga, meluluhkan kerasnya hati, menaklukan hati, memikat banyak hati, mengunci pasangan tidak ke lain hati, kunci pelanggan tetap, tolak bala, memancarkan aura membuat lawan jenis tergila gila, pelet ampuh, pengasihan… selengkapnya
Rp 330.000Mustika Pembayung adalah nama Produk ini. Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Pembayung Insya Allah untuk pengayoman, dimudahkan mengatur karyawan dan orang banyak, disegani dan dituruti setiap perkataan anda, meraih jabatan dan meraih kesuksesan bisnis. Produk Jenis ini bernama Batu Akik Pamor Pembayung. Produk jenis ini ditemukan Tahun 1548. Tingkat Kekerasan 6.5-7 Mohs. Ukuran Batu : 20x14x10… selengkapnya
Rp 200.000Mustika Gunung Semeru Mustika Gunung Semeru memancarkan energi alami yang sungguh sangat luar biasa. Mustika ini memiliki getaran energi suprantural yang sangat cocok untuk siapa saja. Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Gunung Semeru Insya Allah untuk aura pemikat, wibawa dan kharisma yang memukau, pengasihan tingkat tinggi, sebagai pembuka aura dan pemikat / penakluk banyak hati sesuai… selengkapnya
Rp 250.000Mustika Merah Darah Menawan Mustika Merah Darah Menawan merupakan batu mustika bertuah dengan corak warna merah darah perawan yang indah serta terkesan elegan sekali. Mustika ini memiliki keindahan yang luar biasa dan terpancar secara alami. Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Tersebut Insya Allah untuk pemikat lawan jenis, membuka aura pengasihan 7 tingkat, mampu memikat perawan dengan… selengkapnya
Rp 315.000Mustika Batu Combong Emas Mustika Batu Combong Emas merupakan mustika bertuah yang paling sering diburu. Mustika combong ini sangat terkenal dan populer sebagai jimat pelet yang berfungsi untuk memikat wanita melalui jarak jauh ataupun berhadapan langsung. Mustika combong ini bisa membuat target benar-benar takluk dan luluh menuruti semua permintaan pemilik mustika ini. Mustika ini sudah… selengkapnya
Rp 825.000Cincin Mustika Blue Topaz Bertuah Koleksi Sesepuh Cincin Mustika Blue Topaz Bertuah Koleksi Sesepuh merupakan mustika yang memiliki warna biru sangat indah. Blue topaz telah menjadi salah satu batu permata yang saat ini paling populer di pasaran, karena kejernihannya, ketahanan, ketersediaan dan biayanya yang terjangkau. Namun saat ini topaz jarang ditemukan di alam, sehingga batu… selengkapnya
Rp 1.500.000Mustika Dua Alam Sakti Mustika Dua Alam Sakti merupakan mustika bertuah yang memiliki pamor menggambarkan dua dunia gaib yang sangat berbeda, dengan unsur lemah lembut dan unsur keras kuat serta membara menjadikan mustika ini sangat fleksibel. Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Dua Alam Sakti Insya Allah untuk untuk kesehatan jasmani dan rohani, penangkal ilmu sihir dan… selengkapnya
Rp 400.000Poster Gambar Ikan Koi Poster Gambar Ikan Koi adalah poster yang berisikan gambar Ikan Koi. Secara spesifiknya koi berasal dari bahasa Jepang yang berarti ikan karper. Lebih spesifik lagi merujuk pada nishikigoi, yang kurang lebih bermakna ikan karper yang bersulam emas atau perak. Di Jepang, koi menjadi semacam simbol cinta dan persahabatan. Ini karena koi… selengkapnya
Rp 10.000Arti Keris Megantara, Megantara / Megantoro merupakan salah satu nama dhapur yang cukup terkenal dari sekian banyak dhapur dalam dunia perkerisan. Bentuk keris ini cukup unik karena keris ini dikategorikan sebagai keris berluk yaitu luk 7. Keunikan keris ini adalah luk hanya ada di bagian bawah dan luk yang ke 7 terlihat lurus sehingga terkesan… selengkapnya
Keris Pusaka Jokowi Joko Widodo. Keris model dhapur Pasupati (sebutan lain: Pasopati) dipesan oleh “Paguyuban Tosan Aji Boworoso Bali Sujadmiko Surakarta“, dibabar oleh Mpu Pauzan (Surakarta) dan diberikan kepada Joko Widodo (JokoWi). Informasi menarik ini saya dapatkan melalui jelajah “googling” dan mampir ke blog kerismataraman sekitar bulan September 2013. Keris Pasopati diberikan oleh komunitas Tosan… selengkapnya
Inilah Media dan Jenis Santet dengan Paranormal Jarak Jauh Untuk melakukan sebuah santet tidaklah mudah, Anda membutuhkan seorang paranormal jarak jauh terpercaya agar santet yang Anda lakukan bisa berhasil dan aman. Santet ini bisa mengakibatkan cacat permanen bahkan sampai membunuh si korban. Oleh karena itu ilmu santet ini sangat berbahaya dan hanya dilakukan oleh ahlinya saja…. selengkapnya
Berita Artikel Kisah Mbah Soleh Yang Meninggal 9 kali Dikawasan Wisata Religi Sunan Ampel di Surabaya Jawa timur, sebuah keajaiban yang tak ada duanya, ada seorang manusia yang di kubur hingga sembilan kali. Di samping Masjid Agung Sunan Ampel ada 9 kuburan yang berjajar. Itu bukan kuburan 9 orang, tapi hanya makam 1 orang yaitu… selengkapnya
Tentang Bersin dan Menguap. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’alaa anhu, Rasulullah bersabda, “Sungguh Allah mencintai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap, maka jika kalian bersin maka pujilah Allah, maka setiap orang yang mendengar pujian itu untuk menjawabnya; adapun menguap, maka itu dari syaitan, maka lawanlah itu sekuat tenagamu. Dan apabil seseorang menguap dan terdengar… selengkapnya
Khasiat Jimat Pemikat Pelet Pengasihan Khasiat jimat pemikat pelet pengasihan di halaman ini adalah berdasarkan rangkuman dari berbagai pengalaman banyak orang yang sudah membuktikannya. Dan Diva Aura pun tak berani menjamin keberhasilannya karena itu adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Pengasih. Jika memang Anda yakin dan bersungguh-sungguh maka sudah barang tentu akan diberikan kemudahan dan… selengkapnya
Kerajaan Sriwijaya. Di dalam catatan sejarah Dinasti Tang dikatakan bahwa pada abad ke-7 di pantai timur Sumatera selatan telah berdiri Kerajaan She-li-fo-she atau Sriwijaya. Sumber sejarah yang berasal dari kerajaan Sriwijaya sendiri diperoleh dai enam buah prasasti yang tersebar di Sumatera bagian selatan dan Pulau Bangka. Sumber-sumber asing yang menerangkan Kerajaan Sriwijaya cukup banyak. Sumber-sumber… selengkapnya
Berita Artikel Sulaiman dan Ratu Balqis Setelah Nabi Sulaiman membangunkan Baitulmaqdis dan melakukan ibadah haji sesuai dengan nadzarnya pergilah ia meneruskan perjalannya ke Yeman. Setibanya di San’a – ibu kota Yeman ,ia memanggil burung hud-hud sejenis burung pelatuk untuk disuruh mencari sumber air di tempat yang kering tandus itu. Ternyata bahawa burung hud-hud yang dipanggilnya… selengkapnya
Ilmu Tabdil Ilmu Tabdil berasal dari kata Baddala Yubaddilu Tabdilan Yang berarti mengganti yaitu mengganti kertas, daun menjadi uang, di dalam semua kitab Hikmah tidak ada Ilmu Tabdil yang sanggup membikin uang sampai ratusan Juta apalagi sampai Milyaran di dalam semua kitab di batasi hanya ada yang 2 lembar, 4, 8, 10, 45, dan 50… selengkapnya
Doa Mustajab,Agar Hajat Cepat Terkabul Bangun di tengah malam, ambil wudhu, kemudian lakukan sholat sunnah 2 roka’at di dalam sholat sehabis membaca Al Fatehah boleh membaca surat/ayat yang dihapal atau bisa juga membaca ayat ini : “Amman yujiibu mudhthorro idzaa da’aahu wa yaksyifusy syuuk, wa yaj’alakum khulafaa-alardhi a ilaahum ma’allooh, qoliilan maa tadzakkaruun”. dan atau… selengkapnya
