Asma’ binti Umais (Wanita yang Hijrah Dua Kali)
Tentang Asma’ binti Umais (Wanita yang Hijrah Dua Kali). Beliau adalah Asma’ binti Umais bin Ma’d bin Tamim bin al-Haris bin Ka’ab bin Malik bin Quhafah, dipanggil dengan nama Ummu Abdillah. Beliau termasuk salah satu di antara empat akhwat mukminah yang telah mendapat pengesahan dari Rasulullah saw dengan sabdanya, “Ada empat akhwat mukminah yaitu Maimunah, Ummu Fadhl, Salma dan Asma’.”
Beliau ra masuk Islam sebelum kaum muslimin memasuki rumah bin Abi al-Arqam. Beliau adalah istri pahlawan di antara sahabat, yaitu Ja’far bin Abi Thalib ra, sahabat yang memiliki dua sayap sebagaimana gelar yang Rasulullah saw berikan terhadap beliau. Manakala ingin mengucapkan salam kepada Abdullah bin Ja’far beliau Rasulullah saw , “Selamat atas kamu wahai putra dari seorang yang memiliki dua sayap (dzul janahain).”
Asma’ ra termasuk wanita muhajirah pertama, beliau turut berhijrah bersama suaminya, yaitu Ja’far bin Abi Thalib menuju Habsyah. Beliau rasakan pahit getirnya hidup di pengasingan. Adapun suaminya adalah juru bicara kaum muslimin dalam menghadapi raja Habsyah an-Najasi.
Di bumi pengasingan tersebut beliau melahirkan tiga putra: Abdullah, Muhammad, dan ‘Aunan. Abdullah sangat mirip dengan ayahnya, sedangkan ayahnya sangat mirip dengan Rasulullah saw, sehingga hal itu menggemberikan hati beliau dan menumbuhkan perasaan rindu untuk melihat Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda kepada Ja’far, “Engkau menyerupai bentukku dan juga akhlakku.”
Ketika Rasulullah saw memerintahkan bagi para muhajirin untuk bertolak menuju Madinah, hampir-hampir Asma’ terbang karena girangnya. Inilah mimpi yang menjadi kenyataan dan jadilah kaum muslimin mendapatkan negeri mereka dan kelak mereka akan menjadi tentara-tentara Islam yang akan menyebarkan Islam dan meninggikan kalimat Allah.
Begitulah, Asma’ ra keluar dengan berkendaraan tatkala hijrah untuk kali yang kedua dari negeri Habsyah menuju negeri Madinah. Tatkala rombongan muhajirin tiba di Madinah, ketika itu pula mereka mendengar berita bahwa kaum muslimin baru menyelesaikan peperangan dan membawa kemenangan, takbir pun menggema di segala penjuru karena bergembira dengan kemenangan pasukan kaum muslimin dan kedatangan muhajirin dari Habsyah.
Ja’far bin Ali Abi Thalib datang disambut Rasulullah saw dengan gembira kemudian beliau cium dahinya seraya bersabda, “Demi Allah, aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakan, kemenangan Khaibar atau kedatangan Ja’far.”
Asma’ masuk ke dalam rumah Hafshah binti Umar tatkala Nabi saw menikahinya. Tatkala itu Umar masuk ke rumah Hafshah sedangkan Asma’ berada di sisinya, lalu beliau bertanya kepada Hafshah, “Siapakah wanita ini?” Hafshah menjawab, “Dia adalah Asma’ binti Umais?” Umar bertanya, “Inikah wanita yang datang dari negeri Habsyah di seberang lautan?” Asma’ menjawab, “Benar.” Umar berkata, “Kami telah mendahului kalian untuk berhijrah bersama Rasul, maka kami lebih berhak terhadap diri Rasulullah daripada kalian.” Mendengar hal itu Asma’ marah dan tak kuasa menahan gejolak jiwanya sehingga beliau berkata, “Tidak demi Allah, kalian bersama Rasulullah saw sedangkan beliau memeberi makan bagi yang kelaparan di antara kalian dan mengajarkan bagi yang masih bodoh di antara kalian, adapun kami di suatu negeri atau di bumi yang jauh dan tidak disukai, yakni Habasyah, dan semua itu adalah demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian, Asma’ ra diam sejenak, selanjutnya berkata, “Demi Allah aku tidak makan dan minum sehingga aku laporkan hal ini kepada Rasulullah saw, kami diganggu dan ditakut-takuti, hal itu juga aku akan sampaikan kepada Rasulullah saw, aku akan tanyakan kepada beliau, demi Allah aku tidak berdusta, tidak akan menyimpang dan tidak akan menambah-nambah.”
Tatkala Rasulullah saw datang, maka Asma’ berkata kepadanya, “Wahai Nabi saw, sesungguhnya Umar berkata begini dan begitu.” Rasulullah saw bertanya kepada Umar, “Apa yang telah engkau katakan kepadanya,” Umar menjawab, “Aku katakan begini dan begitu.” Rasulullah saw bersabda kepada Asma’, “Tiada seorang pun yang lebih berhak atas diriku melebihi kalian, adapun dia (Umar) dan para sahabatnya berhijrah satu kali, akan tetapi kalian ahlus safinah (yang menumpang kapal) telah berhijrah dua kali.”
Akhirnya, berbunga-bungalah hati Asma’ karena pernyataan Rasulullah tersebut, lalu beliau sebarkan berita tersebut kepada khalayak, hingga orang-orang mengerumuni beliau untuk meminta penjelasan tentang kabar tersebut. Asma’ berkata, “Sungguh aku melihat Abu Musa dan orang-orang yang telah berlayar (berhijrah bersama Asma’ dan suaminya) mendatangiku dan menanyakan kepadaku tentang hadis tersebut, maka tiada sesuatu dari dunia yang menggembirakan dan lebih besar artinya bagi mereka dari apa yang disabdakan Nabi saw kepada mereka.”
Manakala pasukan kaum muslimin menuju Syam, di antara ketiga panglimanya terdapat suami dari Asma’, yakni Ja’far bin Abi Thalib ra. Di sana, di medan perang Allah memilih beliau di antara sekian pasukan untuk mendapatkan gelar syahid di jalan Allah.
Rasulullah saw mendatangi rumah Asma’ dan menanyakan ketiga anaknya, mereka pun berkeliling di sekitar Rasulullah, kemudian Rasulullah mencium mereka dan mengusap kepala mereka hingga kedua matanya melelehkan air mata. Berkatalah Asma’ dengan hati yang berdebar-debar menyiratkan kesedihan, “Demi ayah dan ibuku, apa yang membuat anda menangis? Apakah telah sampai suatu kabar kepada anda tentang Ja’far dan sahabat-sahabatnya?” Beliau menjawab, “Benar, dia gugur hari ini.”
Asma’ tidak kuasa menahan tangisnya, kemudian Rasulullah menghiburnya dan berkata kepadanya, “Berkabunglah selama tiga hari, kemudian berbuatlah sesukamu setelah itu.” Selanjutnya, Rasulullah saw bersabda kepada keluarga beliau, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang peristiwa yang menyibukkan mereka.”
Tiada yang dilakukan oleh wanita mukminah ini melainkan mengeringkan air mata, bersabar, dan berteguh hati dengan mengharap pahala yang agung dari Allah. Bahkan, suatu malam dia bercita-cita agar syahid sebagaimana suaminya. Terlebih-lebih tatkala beliau mendengar dari salah seorang laki-laki dari Bani Murrah bin Auf berkata, “Tatkala perang tersebut, demi Allah seolah-olah aku melihat Ja’far ketika melompat dari kudanya yang berwarna kekuning-kuningan kemudian beliau berperang hingga terbunuh. Beliau sebelum terbunuh berkata:
Wahai jannah yang aku dambakan mendiaminya
Harum semerbak baunya, sejuk segar air minumnya
Tantara Romawi menghampiri liang kuburnya
Terhalang jauh dari sanak keluarganya
Kewajibankulah menghantamnya kala menjumpainya
Kemudian, Ja’far memegang bendera dengan tangan kanannya, tetapi dipotonglah tangan kanan beliau, kemudian beliau bawa dengan tangan kirinya, akan tetapi dipotonglah tangan kirinya, selanjutnya beliau kempit dengan di dadanya dengah kedua lengannya hingga terbunuh.
Asma’ mendapatkan makna dari sabda Rasulullah saw yang pernah berkata kepada anaknya, “Assalamualaikum wahai putra yang memiliki dua sayap.”
Rupanya Allah menggantikan kedua tangan Ja’far yang terputus dengan dua sayap yang dengan keduanya beliau terbang di jannah sekehendaknya. Seorang ibu yang salihah tersebut tekun menarbiyah ketiga anaknya dan membimbing mereka agar mengikuti jejak yang telah di tempuh oleh ayahnya yang telah syahid, serta membiasakan mereka dengan tabiat iman.
Belum lama berselang dari waktu tersebut Abu Bakar ra datang untuk meminang Asma’ binti Umais setelah wafatnya istri beliau, Ummu Rumaan ra. Tiada alasan bagi Asma’ untuk menolak pinangan orang seutama Abu Bakar ra, begitulah akhirnya Asma’ berpindah ke rumah Abu Bakar ra untuk menambah cahaya kebenaran dan cahaya iman dan untuk mencurahkan cinta dan kesetiaan di rumah tangganya.
Setelah sekian lama beliau melangsungkan pernikahan yang penuh barakah, Allah mengaruniakan kepada mereka seorang anak laki-laki. Mereka ingin melaksanakan haji wada, maka Abu Bakar menyuruh istrinya untuk mandi dan menyertai haji setelah Rasulullah saw memintanya. Kemudiana Asma’ menyaksikan peristiwa demi peristiwa yang besar, namun peristiwa yang paling besar adalah wafatnya pemimpin anak Adam dan terputusnya wahyu dari langit. Kemudian beliau juga menyaksikan suaminya, yakni Abu Bakar memegang tampuk kekhalifahan bagi kaum muslimin, sehingga suaminya merampungkan problematika yang sangat rumit, seperti memerangi orang-orang yang murtad, memerangi orang-orang yang tidak mau berzakat, serta mengirimkan pasukan Usamah dan sikapnya yang teguh laksana gunug tidak ragu-ragu dan tidak bimbang, demikian pula beliau menyaksikan bagaimana pertolongan Allah diberikan kepada kaum muslimin dengan sikap iman yang teguh tersebut.
Asma’ senantiasa menjaga agar suaminya senantiasa merasa senang dan beliau hidup bersama suaminya dengan perasaan yang tulus turut memikul beban bersama suaminya dalam urusan umat yang besar.
Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama sebab Khalifah ash-Shidiq sakit dan semakin bertambah parah hingga keringat membasahi pada bagian atas kedua pipi beliau. Ash-Shidiq dengan ketajaman perasaan seorang mukmin yang shadiq merasakan dekatnya ajal beliau sehingga beliau bersegera untuk berwasiat. Adapun di antara wasiat beliau adalah agar beliau dimandikan oeh istrinya Asma’ binti Umais ra, selain itu beliau berpesan kepada istrinya agar berbuka puasa dengan berkata, “Berbukalah karena hal itu membuat dirimua lebih kuat.”
Asma’ merasa telah dekatnya wafat beliau sehingga beliau membaca istirja dan memohon amun sedangkan kedua mata beliau tidak berpaling sedikit pun dari memandang suaminya yang ruhnya kembali dengan selamat kepada Allah. Hal itu membuat Asma’ meneteskan air mata dan bersedih hati, akan tetapi sedikit pun beliau tidak mengatakan sesuatu melainkan yang diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala, beliau tetap bersabar dab berteguh hati.
Selanjutnya beliau menunaikan perkara penting yang diminta oleh suaminya yang telah tiada, karena beliau adalah orang yang paling bisa dipercaya oleh suaminya. Mulailah beliau memandikan jenazah suaminya dan beliau lupa terhadap wasiat yang kedua. Beliau bertanya kepada para muhajirin yang hadir, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa, namun hari ini adalah hari yang sangat dingin, apakah boleh bagiku untuk mandi?” Mereka menjawab, “Tidak.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha’ I/222 dan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat VIII/284).
Di akhir siang, seusai dimakamkannya as-Shiddiq, tiba-tiba Asma’ binti Umais ingat wasiat suaminya yang kedua, yakni agar beliau berbuka (tidak melanjutkan puasa). Lantas apa yang dilakukannya sekarang? Sedangkan waktu hanya tinggal sebentar lagi. Menunggu matahari tenggelam dan orang yang shoum diperbolehkan untuk berbuka? apakah dia akan setia dengan wasiat suaminya ataukah menunggu sejenak saja untuk melanjutkan puasanya?
Kesetiaan terhadap suaminya telah menghalangi beliau untuk mengkhianati wasiat suaminya yang telah pergi, maka beliau mengambil air dan meminum kemudian berkata, “Demi Allah aku tidak akan melanggar janjinya hari ini.”
Setelah kepergian suaminya, Asma’ ra melazimi rumahnya dengan mendidik putra-putranya, baik dari Ja’far maupun dari Abu Bakar. Beliau menyerahkan urusan anak-anaknya kepada Allah dengan mohon kepada-Nya untuk memperbaiki anak-anaknya dan Allah pun memperbaiki mereka hingga mereka menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa. Inilah puncak dari harapan beliau di dunia dan beliau tidak mengetahui takdir yang akan menimpa beliau yang tersembunyi di balik ilmu Allah.
Dialah Ali bin Abu Thalib ra saudara dari Ja’far yang memiliki dua sayap mendatangi Asma’ untuk meminangnya sebagai wujud kesetiaan Ali kepada saudaranya yang dia cintai, yaitu Ja’far, begitu pula Abu Bakar as-shiddiq ra.
Setelah berkali-kali berpikir dan mempertimbangkannya dengan matang, beliau memutuskan untuk menerima lamaran dari Ali bin Abi Thalib sehingga kesempatan tersebut dapat beliau gunakan untuk membantu membina putra-putra saudaranya Ja’far. Maka, berpindahlah Asma’ ke rumah tangga Ali ra setelah wafatnya Fatimah az-Zahraa’ ra dan ternyata beliau adalah sebaik-baik wanita salihah, dan beliau juga memiliki suami yang paling baik dalam bergaul. Asma’ senantiasa memiliki kedudukan yang tinggi di mata Ali hingga beliau sering mengulang-ulang di setiap tempat, “Di antara wanita yang memiliki syahwat telah menipu kalian, maka aku tidak menaruh kepercayaan di antara wanita melebihi Asma’ binti Umais.”
Allah memberi kemurahan kepada Ali dengan mengaruniai anak dari Asma’ yang bernama Yahya dan Aunan, berlalulah hari demi hari dan Ali menyaksikan pemandangan yang asing, yakni putra saudaranya Ja’far sedang berbantahan dengan Muhammad bin Abu Bakar dan masing-masing membanggakan diri dari yang lain dengan mengatakan, “Aku lebih baik daripada kamu dan ayahku lebih baik daripada ayahmu.” Ali tidak mengetahui apa yang mereka berdua katakan. Dan bagaimana pula memutuskan antara keduanya karena beliau merasa simpati dengan keduanya. Maka, tiada yang dapat beliau lakukan selain memanggil ibu mereka, yakni Asma’ ra, kemudian berkata, “Putuskanlah antara keduanya!” Dengan pikirannya yang tajam dan hikmah yang mendalam beliau berkata, “Aku tidak melihat seorang pemuda di Arab yang lebih baik daripada Ja’far dan aku tidak pernah melihat orang tua yang lebih baik daripada Abu Bakar.” Inilah yang menyelesaikan urusan mereka berdua dan kembalilah kedua bocah tersebut saling merangkul dan bermain bersama. Namun, Ali merasa takjub dengan bagusnya keputusan yang diambil oleh Asma’ terhadap anak-anaknya, dengan menatap wajah istrinya beliau berkata, “Engaku tidak menyisakan bagi kami sedikit pun wahai Asma’?” Dengan kecerdasan yang tinggi dan keberanian yang luar biasa ditambah lagi adab yang mulia beliau berkata:”Di antara ketiga orang pilihan, kebaikan Anda masih di bawah kebaikan mereka.”
Ali ra tidak merasa asing dengan jawaban istrinya yang cerdas, maka beliau berkata dengan ksatria dan akhlak yang utama: “Sendaianya engkau tidak menjawab dengan jawaban tersebut, niscaya aku cela dirimu.”
Akhirnya, kaum muslimin memilih Ali ra sebagai khalifah setelah Utsman bin Affan, maka kedua kalinya Asma’ menjadi istri seorang khalifah, yang kali ini adalah khalifah rasyidin yang keempat, semoga Allah meridhai mereka semuanya.
Asma’ turut serta memikul tanggung jawab sebagai istri khalifah bagi kaum muslimin dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar, begitu pula dengan Abdullah bin Ja’far dan Muhammad bin Abu Bakar ra berdiri di samping ayahnya dalam rangka membela kebenaran. Kemudian, setelah berselang beberapa lama, wafatlah putra beliau Muhammad bin Abu Bakar ra dan musibah tersebut membawa pengaruh yang besar pada diri beliau, akan tetapi Asma’ seorang wanita mukminah tidak mungkin menyelisihi ajaran Islam dengan berteriak-teriak dan meratap dan hal-hal lain yang dilarang dalam Islam. Tiada yang beliau lakukan selain berusaha bersabar dan membawa pertolongan dengan sabar dan salat terhadap penderitaan yang beliau alami. Asma’ selalu memendam kesedihannya hingga payudaranya mengeluarkan darah.
Belum lagi tahun berganti hingga sakit beliau bertambah parah dan menjadi lemah jasmaninya, dengan cepat kemudian beliau meninggal dunia. Yang tinggal hanyalah lambang kehormatan yang tercatat dalam sejarah setelah beliau mengukir sebaik-baik contoh dalam hal kebijaksanaan, kesabaran, dan kekuatan.
Demikian Artikel tentang Asma’ binti Umais (Wanita yang Hijrah Dua Kali)
Asma’ binti Umais (Wanita yang Hijrah Dua Kali)
Mustika Kilat Petir Putih Keramat Mustika Kilat Petir Putih Keramat merupakan mustika bertuah yang memiliki pamor kilat petir putih yang terkesan keramat. Mustika tersebut pamor kilat petirnya terbentuk secara alami dan bukan karena gambaran maupun isian manusia. Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Kilat Petir Putih Keramat Insya Allah untuk Kesuksesan Karir dan Jabatan, Kemudahan Meraih Posisi… selengkapnya
Rp 300.000Pipa Rokok Gading Asli Langka Merokok adalah kecanduan yang berbahaya dan harus dihindari. Filter rokok hanya menyaring racun dalam rokok dan tidak menyaring nikotin. Pipa Rokok Asli Gading Gajah memiliki manfaat untuk menyaring nikotin dalam rokok sehingga masyarakat dapat menikmati rokok tanpa khawatir akan gangguan kesehatan. Pipa Rokok Gading Gajah Ukir Naga Koleksi Sesepuh adalah… selengkapnya
Rp 2.250.000Mustika Santet Jodoh Tayuh Asmoro Pusaka Dunia Mustika Santet Jodoh Tayuh Asmoro Pusaka Dunia mampu menjadi sarana untuk membantu pemiliknya mewujudkan keinginanya. Mustika kami yang sudah masuk kedalam website resmi pusaka dunia terjamin keaslianya dan khasiatnya karena sudah melalui uji tes khasiat terlebih dahulu sebelum terpampang di website pusaka dunia. Mustika kami memiliki energi yang… selengkapnya
Rp 385.000Semar Rajah Jawa merupkan sebuah koin besi kursani dengan motif semar dan ada rajah aksara jawanya. Azimat pengasihan koin semar ini sungguh sangat unik dan indah sekali, Semar ini terbuat dari bahan besi kuning / yang terkenal dengan besi kursani. Benda bertuah yang satu ini sangat indah dan elegan sekali. Semar Rajah Jawa ini mempunyai… selengkapnya
Rp 125.000Mustika Bertuah Ukir Biksu Mustika Bertuah Ukir Biksu merupakan batu mustika bertuah yang memiliki ukiran Biksu di permukaan batunya. Biksu dalam kepercayaan masyarakat china memiliki makna untuk ketenangan dan ketentraman. Batu mustika yang memiliki energi spiritual berasal dari alam dan atas kehendak Allah SWT. Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Bertuah Ukir Biksu Insya Allah untuk membuka… selengkapnya
Rp 400.000Mustika Merah Delima Terbaik Mempesona Mustika Merah Delima Terbaik Mempesonamerupakan mustika bertuah yang sangat terkenal dan banyak penggemarnya. Mustika ini memiliki warna merah yang sangat mempesona sekali. Mustika ini juga termasuk mustika bertuah yang ampuh dan sudah sangat terkenal serta mendunia dan sangat cocok untuk dijadikan ageman / pegangan. Keterangan Mustika. Produk Jenis ini bernama… selengkapnya
Rp 325.000Mustika Ular Baru Klinthing Mustika Ular Baru Klinthing ini merupakan mustika bertuah yang memiliki energi sangat tinggi guna pengusir jin dan khodam jahat. Mustika ini juga memiliki perpaduan warna yang indah serta elegan sekali. Khasiat Manfaat Bertuah Mustika Ular Baru Klinthing Insya Allah untuk pagar gaib, penangkal santet tenung. Mustika Ular Baru Klinthing Produk Jenis… selengkapnya
Rp 300.000Azimat Kantil Emas Besi Kursani Azimat Kantil Emas Besi Kursani adalah azimat besi kursani kuning emas yang berbentuk bunga kantil yang indah serta elegan sekali. Azimat tersebut memang dipercaya spesial memiliki energi spiritual khusus Pelet dan Pengasihan pemikat lawan jenis, dan azimat tersebut dapat digunakan untuk pria maupun wanita. Azimat Kantil Emas Besi Kursani ini… selengkapnya
Rp 175.000Keris Rajah Asmaul Husna Emas Luk 9 Serasah Emas Keris Rajah Asmaul Husna Emas Luk 9 merupakan keris pusaka dengan jumlah 9 luk yang pada bilah keris pusaka tersebut terdapat serasah sepuh emas rajah asmaul husna yang sangat indah dan terkesan elegan. Keris seperti ini memang banyak yang meminatinya, keris ini juga sangat cocok untuk… selengkapnya
Rp 750.000Dupa Aromatherapy Dan Peningkat Energi Khodam . Dupa Aromatherapy Dan Peningkat Energi Khodam ini memang dupa yang sudah ditambah ritual do’a khusus oleh sesepuh pusaka dunia. Dupa ini memiliki aroma yang sangat harum dan dapat juga untuk aromatherapy di kantor maupun di rumah. Dupa ini sangat banyak sekali peminatnya dan harganyapun sangat terjangkau sekali. Dupa… selengkapnya
Rp 75.000Anton Medan: Bulan Ramadhan, Saatnya Introspeksi Diri Setelah lima tahun lepas dari tahanan, pada tahun 1992 Anton Medan mantan Narapidana dan preman itu memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Di tahun pertama menjadi mualaf, ia sudah melaksanakan ibadah umrah dan menghabiskan bulan Ramadhan di tanah suci, Mekkah. Meski saat itu ia baru menjadi mualaf, Anton Medan… selengkapnya
Minyak Apel Jin Daun 3 Minyak Apel Jin Daun 3 adalah sebuah ramuan yang diramu dengan bentuk apel dengan warna keemasan. Apel jin ini merupakan apel yang berfungsi sebagai suatu benda yang menjembatani antara manusia dan para makhluk halus. Apel jin dapat digunakan untuk memanggil khodam, memanggil malaikat pelindung, ataupun untuk membentengi diri Anda dari… selengkapnya
Kesaktian Kean Santang Kesaktian Kean Santang adalah salah satu artikel dari sekian banyak artikel yang kami buat, anda juga menemukan artikel yang serupa di majalah posmo edisi 741. Prabu Kean Santang atau yang sering kita kenal dengan nama Raden Kiansantang atau Raden Sangara atau Syeh Sunan Rohmat Suci, Kean Santang merupakan Putra ke 3 dari Prabu… selengkapnya
Sejarah Mazhab dan Hukum Bermazhab Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia banyak para sahabat yang berpindah dari satu negeri ke negeri lain, terutama pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Di setiap negeri yang mereka diami, mereka mengajarkan apa yang mereka peroleh dari Rasulullah kepada penduduk di mana mereka tinggal.Di antara kota-kota tempat tinggal para sahabat tersebut akhirnya… selengkapnya
Tentang Pengasihan Gendam Sukma. Pengasihan Gendam Sukma ini merupakan pengasihan yang ampuh, gadis yang terkena pengasihan ini tidak akan tenang pikirannya. Karena kemanapun ia pergi bayangan orang yang mengirim pengasihan ini tidak bisa hilang dalam ingatannya. Sebab seakan-akan ada dihadapannya saja, bahkan pada saat ia tidur sekalipun. Cintanya pada pengirim pengasihan ini tidak akan hilang… selengkapnya
Gambar Keris Pamor Pulo Tirto. Seperti Wos Wutah hanya gumpalan gambarnya terpisah agak berjauhan, seperti bentuk pulau pada peta. Tuahnya sama dengan pamor Wos Wutah dan inilah bentuk gambar foto Gambar Keris Pamor Pulo Tirto :
Cara Untuk Membuat Jimat Pemikat Wanita Dalam kehidupan sehar-hari kita tak akan mungkin bisa terlepas dari yang namanya ilmu klenik seperti cara untuk membuat jimat pemikat wanita, ilmu klenik merupakan ilmu yang membahas tentang spiritual atau sesuatu yang tak Nampak. Di dunia ini banyak orang yang tak mempercayai ilmu seperti ini, ilmu seperti ini banyak… selengkapnya
Bentuk Keris Kinasihan. Ini pamor baik dan tidak pemilih, tuahnya disayang dan dihormati orang sekeliling. Factor rejeki juga baik, bisa lumintu (selalu ada saja)
Cara Menarik Batu Mustika Bertuah Cara Menarik Batu Mustika Bertuah, Siapa yang tidak mengenal batu mustika bertuah? Batu mustika bertuah merupakan sebuah batu yang memiliki energi yang berasal dari alam gaib, Pencarian batu mustika bertuah pun banyak dilakukan oleh sejumlah orang biasa maupun paranormal. Karena dengan meiliki batu mustika bertuah hasil tarikan gaib itu dipercaya bisa… selengkapnya
Kerajaan Galuh. Sejarah Kerajaan Galuh (Ciamis) Oleh A. Sobana Hardjasaputra (Putera Galuh, sejarawan dan pustakawan pada Fakultas Sastra Unpad) Pengantar Daerah Galuh yang sekarang bernama Ciamis memiliki perjalanan sejarah sangat panjang. Hal itu terbukti dari periodisasi yang dilewatinya, yaitu masa pra-sejarah, masa kerajaan (abad ke-8 – abad ke-16), masa kekuasaan Mataram, kekuasaan Kompeni, dan Belanda/Hindia… selengkapnya
